HSBC Indonesia Tawarkan Solusi Kepemilikan Rumah

Paparan dari Head of Customer Value Management HSBC Indonesia Vira Widiyasari, pengamat property Anton Sitorus, dan presenter Daniel Mananta. (Foto: Ist./W5)

JAKARTA, JIA XIANG – Ketika para developer menawarkan banyak kemudahan untuk pembelian rumah yang dipasarkannya, plus ada bank yang juga menawarkan solusi terbaik untuk mewujudkan terpenuhinya kebutuhan mendasar ini, maka inilah momen tepat mengambil keputusan.

Pandangan tersebut mengemuka dalam talk show yang menampilkan tiga pembicara, masing-masing  Head of Customer Value Management HSBC Indonesia Vira Widiyasari, pengamat property Anton Sitorus, dan presenter Daniel Mananta. Talk show bertema “HSBC Advance Home Ownership Plan, Saatnya Impian Memiliki Rumah Kian Mudah Diwujudkan” berlangsung di SCBD Sudirman, Jakarta, Kamis (19/5/16).

Bertitik tolak dari tema tersebut, HSBC menawarkan solusi kepada para nasabahnya dalam memiliki rumah. Dalam program tersebut nasabah mesti menabung minimal Rp 3,5 juta per bulan dalam 2 tahun. Tabungan ini ditujukan supaya nasabah memiliki uang muka untuk membeli rumah.

Menurut Vira, hasil survei oleh HSBC di kalangan menengah ke atas atau emerging affluent di Indonesia (sembilan dari 10 orang) menempatkan segera memiliki rumah pada prioritas pertama. Meski kepemilikan rumah adalah aspirasi paling mengemuka di kalangan menengah ke atas, lanjutnya, namun masih banyak yang menyatakan belum memulai perencanaan finansialnya dengan baik.

Para responden (berusia 22 tahun hingga 40 tahun) dengan pendapatan berkisar Rp 10 juta hingga Rp 30 juta, pada survei yang dilakukan di Jakarta (60%) dan Surabaya (40%), papar Vira, hampir separuhnya (44%) belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang perencanaan finansial.

Mereka – dengan pertumbuhan tercepat (178%) selama kurun waktu 2012-2018 (mengutip Overview of The ASEAN Opportunity 2014) – cenderung hendak memenuhi kebutuhan yang beragam, sehingga sering gagal atau tertunda dalam memenuhi kebutuhan yang seharusnya menjadi prioritas utama.

Padahal, harga rumah cenderung naik setiap tahun. Data Apersi, rata-rata kenaikan harga rumah sekitar 10% hingga 20% pertahun. Kenaikannya kerap tidak sebanding dengan peningkatan penghasilan.

Pengamat property Anton Sitorus membenarkan bahwa harga rumah cenderung naik tiap tahun. Namun, lanjutnya, bukan berarti semakin sulit untuk membeli rumah. Faktanya, bisnis property terus berlangsung kendati harganya di kota-kota besar membubung, seperti yang terjadi saat ini.

Namun dia menyarankan bahwa saat ini momen terbaik untuk membeli rumah. “Pengembang memberi kemudahan konsumen dalam pembayaran uang muka dengan mencicil beberapa bulan tanpa bunga,” tuturnya. Tawaran ini, lanjutnya, sangat meringankan konsumen.

Vira, melanjutkan pandangan Anton, mengemukakan bahwa hal terpenting adalah keputusan untuk menentukan skala prioritas kebutuhan. Apalagi, dia mengutip studi HSBC Power of Protection 2016, sebanyak 9 dari 10 orang berkeinginan untuk mengubah kehidupannya menjadi lebih baik dan mapan.

HSBC pun, tuturnya, telah menggulirkan gerakan #MenujuMapan, yang merupakan kelanjutan dari gerakan #StartSekarang. “Memahami tantangan-tantangan yang dihadapi oleh kalangan menengah ke atas, yang akan mencapai 13,2 juta jiwa dari total populasi Indonesia, HSBC menawarkan solusi terbaik melalui gerakan ini,” tutur Vira.

Melalui program-program istimewa yang ditawarkan, lanjutnya, HSBC mengundang mereka untuk mengadopsi budaya disiplin dalam menabung serta kemampuan membuat keputusan finansial berdasarkan skala prioritas terpenting. [JX/W5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here