Hubungan Indonesia-Australia bagai Ombak di Laut

Oleh: Iman Sjahputra

Hubungan Indonesia- Australia belakangan ini kembali terganggu. Entah sudah berapa banyak ketegangan yang turun-naik di antara kedua negara. Hubungan ini  memang ibarat ombak di laut, terkadang naik dan terkadang turun. Bahkan sesekali membesar, hingga ombak pun mengecil, kemudian menjadi tenang.

Yang pasti peristiwa di bulan Desember 2016 tampaknya membuat negeri kanguru itu berpikir panjang untuk bisa memperlakukan Indonesia sebagai negara yang menurut mereka penting.

Bukan tanpa alasan militer Indonesia menghentikan kerja sama sejak Desember 2016 dengan Australia.  Pada 9 Desember 2016 TNI mengirimkan surat kepada militer Australia yang isinya menghentikan kerja sama militer kedua negara.  Bila ditelusuri, hal itu dipicu oleh pengalaman pelatih dari Korps Pasukan Khusus (Kopassus) yang mengajar di sekolah pasukan khusus Australia. Saat mengajar di akademi itu, dia mengetahui adanya pelajaran-pelajaran yang materinya  menjelek-jelekkan TNI.

Yang lebih dahsyat lagi, saat menghadap pimpinan akademi militer itu, untuk mengajukan keberatan, pelatih Kopassus ini justru menemukan tulisan lainnya yang menghina Pancasila.

Sontak militer Indonesia bersikap. Keputusan menghentikan kerja sama dengan Australia adalah tepat, mengingat bahwa sikap ini sekaligus memperlihatkan kepada dunia luar, Indonesia bukan negara yang bisa dianggap sebelah mata, dan bukan negara yang bisa dijadikan bulan-bulanan negeri seberang. Kerja sama kedua negara ini, mulai dari penanggulangan teroris sampai perlindungan wilayah perbatasan

Keputusan pihak militer Indonesia pun semakin tegas dengan sikap Presiden Joko Widodo yang mengizinkan  keputusan penghentian kerja sama militer kedua negara. Bahkan Presiden juga meminta kepada Menteri Pertahanan dan Panglima TNI untuk melakukan penyelidikan.

Walau pun akhirnya Australia pada Kamis (5/1/17) menyesalkan tindakan oknum di negaranya, dan berjanji menyelidiki materi pelajaran militer yang menyinggung TNI.

Sikap Indonesia ini dipahami juga oleh Menteri Pertahanan Australia Marise Payne, yang Kamis (5/1/17) mengaku telah menyelidiki materi pelajaran di Barak Campbell, Perth.  Marise pun menghargai sikap Indonesia dengan menyatakan bahwa hal yang wajar bagi negara sahabat untuk menyatakan protes mereka.

Langkah langsung yang bisa diambil Australia adalah semua materi pelajaran pendidikan militer yang menyinggung Indonesia telah dihapus.

Sambil menunggu sikap dan keputusan selanjutnya dari hasil penyelidikan di Australia, maka sebaiknya kita berharap bahwa negara kita tetap dapat bersikap tegas, apa pun keputusan Australia. Sebab hanya ketegasan sikap inilah yang mungkin membuat Australia berpikir seribu kali untuk kembali meremehkan Indonesia.

Dan sebaiknya kita berharap juga Australia bisa memahami makna dan tujuan hubungan bilateral kedua negara, yang sama-sama harus menghormati ideologi masing-masing.

Jadi, sebaiknya persengketaan ini dapat sesegera mungkin di selesaikan, tanpa harus berpanjang-panjang, dan berdampak pada hubungan bilateral di bidang lainnya.

Australia sudah menyesali perbuatannya, dan kini menginvestigasi persoalan yang muncul. Artinya, satu tahap sudah dapat diselesaikan, tinggal memasuki tahap berikutnya,  menanti hasil penyelidikan, dan sikap selanjutnya dari Australia.

Akan sangat penting juga bagi Indonesia untuk mengantisipasi dan mengidentifikasi bidang-bidang kerja sama apa saja yang berpotensi konflik, sebab jangan sampai, satu persoalan ini selesai, muncul masalah di bidang lain.

Untuk itulah, maka kita tetap harus siap menghadapi segala kondisi sebagai dampak dari jalinan hubungan diplomatik dengan negara tetangga. Sebab hubungan ini pasti dilatarbelakangi oleh banyak hal, mungkin bagi negara lain, hubungan dengan negara lain, bukan hanya dibayangi kepentingan politik dalam negeri, tapi mungkin saja ada “titipan” pihak lain di luar negara itu.  Yang pasti kita tetap harus mewaspadainya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here