Hujan, Genangan, dan Kekhawatiran Warga Jakarta

Hujan yang mengguyur Jakarta sejak Rabu (8/1/14) pagi kembali membuat khawatir warga ibu kota ini.  Mereka khawatir kawasan permukiman mereka akan terendam banjir. Kekhawatiran itu memang menjadi alasan kuat, sebab ada beberapa kawasan yang sudah menjadi langganan terendam atau tergenang tatkala hujan di ibu kota ini.
Kenyataan banyaknya genangan di ibu kota, menjadi kenyataan hari Rabu ini. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta, ketinggian genangan yang terjadi akibat hujan sejak pagi hingga siang ini bervariasi yaitu 10 cm hingga 80 cm. Bahkan lembaga itu menyebutkan bahwa hujan Rabu ini  mengakibatkan munculnya 19 titik genangan di Jakarta.
Bahkan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, juga khawatir akan akibat dari hujan sejak pagi hari itu. Gubernur pun langsung meninjau beberapa wilayah, terutama yang masuk dalam kategori titik rawan genangan di Jakarta.
Sementara itu, menurut Pusat Pengendalian Operasi BNPB DKI Jakarta, pada awal bulan Oktober 2013 Jakarta juga dilanda hujan yang deras, dan ada sejumlah 27 titik genangan. Ketinggian air tidak jauh berbeda dengan yang terjadi sekarang ini yaitu 10 cm hingga 50 cm.
Bila kita data jumlah hujan yang sudah turun sejak awal musim penghujan tahun 2013 hingga saat ini, mungkin sudah ratusan hujan turun. Dan lagi-lagi genangan pun terjadi di mana-mana. Lalu muncul berbagai pendapat yang menyebutkan air kiriman dari Bogor atau alasan lain.  Kenyataannya, jumlah genangan saat ini  mungkin lebih banyak daripada yang terpantau. Pastinya wilayah yang sudah langganan selalu tergenang. Sudah tidak heran lagi.
Namun pertanyaannya, mengapa setiap turun hujan dalam waktu yang lama atau sesaat, selalu muncul genangan. Ada apa dengan sungai dan saluran air di Jakarta. Apakah kondisi sekarang ini gambaran yang pasti selalu terjadi lagi bila hujan serupa turun di waktu mendatang.Apakah hal ini, munculnya genangan akibat saluran tersendat  atau banjir akibat luapan air sungai,  bisa diantisipasi?
Pertanyaan selanjutnya, apa penyebab utama sampai Jakarta selalu tergenang dan banjir? Banyak alasan yang bisa disebutkan, mulai dari sungai dan saluran irigasi yang tidak berfungsi, pendangkalan dan penyempitan sungai, banyaknya gedung, rumah dan jalan yang dibangun sehingga daerah terbuka hijau menjadi terbatas, sampai pada sikap masyarakat yang tidak peduli dengan lingkungan.
Bila kita rinci lebih jauh lagi, maka daftar penyebab bencana banjir atau genangan di Jakarta semakin banyak. Kita pun akan semakin bingung, sehingga apa yang harus dilakukan dan dimulai dari mana tidak tahu pula.
Kita harus hargai langkah yang dilakukan oleh gubernur DKI Jakarta dan wakilnya dalam upaya mengatasi banjir, mulai dari normalisasi sungai, pengerukan saluran, penertiban bangunan di atas saluran, sampai pada rehabilitasi situ-situ. Upaya ini sepatutnya didukung juga oleh penduduk DKI Jakarta sendiri dengan cara hidup lebih disiplin dan tertib dalam menjaga kebersihan lingkungan, termasuk tidak membuang sampah ke sungai atau saluran, membantu membersihkan saluran secara berkala, tidak mendirikan bangunan di atas saluran, dan tidak lagi tinggal di bantaran sungai.
Upaya pemerintah DKI Jakarta memberi sanksi bagi warga yang membuang sampah sembarangan adalah bentuk penegakkan hukum, yang ujungnya membangun sikap disiplin untuk hidup sehat. Tetapi apakah membangun sikap disiplin harus selalu dimulai dari ancaman sanksi? Banyak cara bisa dilakukan, baik melalui saluran formal, seperti sekolah, kursus atau cara informal misalnya sosialisasi melalui tokoh agama, tokoh masyarakat, atau ceramah di tempat-tempat ibadah, PKK, dan lainnya.
Kerja pemerintah akan sia-sia bila tidak direspons positif oleh warganya. Jadi, semua itu kembali kepada warga Jakarta sendiri, mau hidup sehat dan nyaman atau selalu diselimuti bencana yang berdampak pada munculnya aneka penyakit?  Ya…penduduk Jakarta sendirilah yang bisa menjawabnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here