Hutan Bebatuan di Kun Ming yang Menawan

Hutan bebatuan di Kun Ming, Provinsi Yunan, Tiongkok, menjadi tempat tujuan wisata yang atraktif. (Foto-foto: JX/Iman Sjahputra)

KUN MING, JIA XIANG – Berwisata ke Kun Ming, Yunan, Tiongkok, bisa dianggap kurang sempurna bilamana tidak mengunjungi salah satu lokasi yang terkenal yaitu hutan bebatuan (Stone Forest). Hutan bebatuan ini telah diakui oleh UNESCO, selaku world heritage yang perlu dirawat dan harus dipertahankan oleh Pemerintah Tiongkok.

Untuk menuju lokasi wisata ini, yang berjarak 87 kilometer, diperlukan waktu sekitar kurang lebih satu setengah jam, melalui perjalanan darat. Sepanjang jalan ke lokasi tersebut berbukit-bukit dan jalannya berkelok-kelok serta menanjak. Tapi para wisatawan tetap nyaman di dalam bus yang ditumpangi, karena infrastruktur jalan sudah memadai dan tidak berlubang-lubang.

Di kanan kiri perbukitan tampak  bukit yang hijau dan beberapa kerbau yang tengah bebas memakan rerumputan di sini. Udara pun terasa segar. Menikmati pemandangan indah di sepanjang perjalanan membuat para wisatawan tak terasa lelah setiba di Stone Forest. Sebuah hutan bebatuan yang sudah ditata baik oleh pemerintah setempat Yunan.

Dikatakan hutan karena lapangan yang luas itu terdapat batu batuan yang besar dengan berbagai bentuk. Di sekelilingnya terdapat pohon pinus yang sudah tua dan berbagai jenis tanaman dan bunga yang cantik. Ujud  dari bebatuan itu ada yang berbentuk  bujur sangkar,  empat perseg,; lonjong dan tidak beraturan.  Dan tidak sedikit juga bebatuan ini berbentuk seperti jenis binatang tikus, anjing atau harimau. Tergantung dari sisi mana para wisatawan membayangkan dan menafsirkan.

Awalnya Stone Forest ini ditemukan pada zaman  kerajaan dinasti Yuan. Para pedagang dan penjelajah pada saat itu menganggap hutan ini adalah pintu gerbang masuk ke wilayah Timur, yang menghubungkan wilayah lain. Zaman itu transportasi masih sangat sulit. Kuda sangat berperan untuk mengangkut komoditas dan barang-barang pengelana yang melewati wilayah perbukitan.

Penemuan hutan bebatuan ini boleh jadi merupakan tempat mampir atau perbatasan wilayah para pedagang dan penjelajah pada masa itu. Kelanjutan dari  penemuan Stone Forest ini akhirnya dikembangkan oleh dinasti Ming.[JX/Iman Sjahputra]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here