Identitas Tionghoa di Indonesia (2)

Tipe Keturunan

Untuk menjadi WNI, para perantau ini harus bisa membuktikan di pengadilan bahwa mereka lahir di Indonesia. Kemudian menyatakan juga di pengadilan bahwa mereka melepaskan kewarganegaraan RRC- nya. Ratifikasi atau pengesahan dari perjanjian tersebut baru selesai pada tahun 1960, sedangkan untuk implementasinya 2 tahun setelah tahun 1960.“Pada tahun 1959 terbit Peraturan Daerah dengan nomor No.20/1959 yaitu tentang Peraturan Pelaksanaan Perjanjian Dwi Kewarganegaraan dengan RRT, yang ditetapkan berlaku mulai 20 Januari 1960 – 20 Januari 1962.
Setelah 2 tahun perjanjian berakhir, mulai terjadi tindakan “pengusiran” terhadap etnis Tionghoa dari daerah kecamatan dan desa dengan dalih pelaksanaan PP No.10/1959 tentang larangan bagi usaha perdagangan kecil dan eceran yang bersifat asing di luar ibukota daerah tingkat 1 & 2 dan kerasidenan.
Dalam situasi demikian, pemerintah RRT mengirimkan kapal penumpang ke Indonesia dengan tujuan “membantu Huaqiao” kembali ke Tiongkok. Namun baru 4 trip (±40.000 jiwa) yang terangkut, sisanya ±100.000 KK tidak sempat terangkut.”
Setelah puluhan tahun kemudian mulai terdapat beberapa sebutan bagi masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia yang umumnya lebih disebabkan karena asal daerah. Beberapa istilah sebutan tersebut sampai sekarang masih sering digunakan. Yang menggunakan istilah-istilah tersebut, selain orang pribumi, juga oleh mereka sendiri (yang mempunyai keturunan Tionghoa) yang digunakan sebagai identitas.
Ada sembilan sebutan dan tipe keturunan Tionghoa di Indonesia :

1. Tionghoa Totok (atau Cina Totok)
Biasanya mereka bermukim di daerah perkotaan. Aktivitas pekerjaan utama mereka pedagang. Orang yang disebut Cina totok adalah mereka yang mempunyai garis keturunan Tionghoa murni, dimana kedua orang tuanya lahir di Tiongkok, tanah leluhur mereka. Umumnya generasi pertama dan kedua di Indonesia masih bisa digolongkan sebagai “Cina Totok”.
Dari fisik mereka cukup mudah dikenali, seperi bermata sipit, berwajah oriental, berkulit putih, masih memegang teguh adat istiadat dan tradisi leluhurnya dari daratan Tiongkok, serta menggunakan bahasa daerahnya untuk percakapan sehari-hari.
“Totok adalah istilah dari bahasa Indonesia, berasal dari bahasa Jawa yang berarti “baru” atau “murni”, dan digunakan untuk mendeskripsikan para pendatang yang lahir di luar negeri serta berdarah murni. Pada masa Hindia Belanda, istilah ini dipakai untuk menunjuk orang Belanda (atau Eropa) yang lahir di luar Hindia Belanda. Istilah lain, yaitu peranakan, memiliki arti yang berkebalikan dan digunakan untuk menyebut penduduk yang telah bercampur dengan warga pribumi di Indonesia.”
Istilah totok juga dipakai untuk menyebut warga Tionghoa yang tinggal di Indonesia yang berdarah murni (totok Tionghoa), terutama untuk membedakannya dengan Babah (“Baba” adalah istilah sebutan untuk laki-lakinya dan “Nyonya” istilah untuk wanitanya) atau peranakan.

2. Tionghoa Peranakan (atau disebut Cina Peranakan)
Tionghoa peranakan adalah orang yang tidak memiliki garis keturunan murni. Hanya salah satu dari orang tuanya saja yang keturunan Tionghoa, ibu atau ayah. Mereka adalah generasi imigran Tiongkok yang hidup turun-temurun dan telah beranak pinak serta kawin campur dengan pribumi di indonesia. Selanjutnya, peranakan inilah yang disebut sebagai RAS etnis Tionghoa-Indonesia.
Tempat kelahiran pun tidak lagi di tanah leluhur, jadi bisa dibilang mereka memiliki darah campuran. Keturunan Tionghoa peranakan umumnya mempunyai fisik yang agak berbeda dari Tionghoa. Misalnya seorang Tionghoa yang berpasangan dengan orang Jawa, kelak anaknya memiliki kemungkinan tidak berkulit putih.
Warga keturunan Tionghoa peranakan umumnya tidak lagi menggunakan bahasa Mandarin (atau dialek daerah Tiongkok) sebagai bahasa pergaulan, bahkan dari sisi kultural mereka telah mengalami proses akulturasi budaya dengan budaya lokal setempat dimana mereka tinggal. Contohnya adalah Masyarakat Tionghoa Benteng yang berakulturasi dengan warga lokal Tangerang, dan melahirkan sebuah perpaduan budaya baru.

3. Tionghoa Benteng (atau disebut Cina Benteng)
Umumnya perawakan warga Tionghoa Benteng mirip dengan orang pribumi Indonesia. Kebanyakan dari mereka berdomisili di Tangerang. Tionghoa Benteng adalah bentuk spesifik dari Tionghoa peranakan. Hanya saja tempat kelahiran berada di Tangerang. Bila dilihat, keturunan etnis Tionghoa Benteng rata-rata memiliki kulit lebih gelap dari etnis tionghoa pada umumnya.
Mereka disisebut Tionghoa Benteng (Cina Benteng) karena mereka adalah warga Tionghoa yang melarikan diri dari peristiwa pembantaian etnis Tionghoa yang terjadi di Batavia sekitar tahun 1740. Tionghoa Batavia tersebut berlindung di sekitar benteng yang banyak tersebar di daerah Tangerang, dimana salah satunya adalah Benteng Makasar yang saat ini telah berubah menjadi kompleks pertokoan Robinson.
Selain itu, warga Tionghoa Benteng juga berasal dari daerah Banten yang masuk ke kawasan Tangerang dan bermukim di daerah sekitar kawasan teluk Naga.

4. Tionghoa Medan (atau disebut Cina Medan)
Sebutan ini umumnya disematkan kepada mereka-mereka yang berasal dari kota Medan yang kemudian merantau di kota-kota besar, seperti Jakarta. Di Ibukota, mereka biasanya bermukim di daerah Pluit, Muara Karang dan sekitarnya. Warga Tionghoa Medan “dipercaya” memiliki mental wirausaha yang tinggi. Mereka bisa segera bangkit dari keterpurukan setelah terjatuh habis-habisan.
Meski tata bahasa mereka layaknya orang Batak (versi Indonesianya). Kebanyakan dari mereka berkulit putih, konon katanya karena menghindari keluar pada siang hari. Tionghoa Medan adalah salah satu golongan masyarakat perantauan yang cukup sukses menaklukan Ibukota Jakarta. [Bersambung]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here