Identitas Tionghoa di Indonesia (3)

Salah satu sudut kawasan Petaik Sembilan, Pecinan, di Glodok, Jakarta. (Foto: JX/Ist)

5. Tionghoa Bangka (atau disebut Cina Bangka)
Sejarah Hakka Indonesia di Bangka Belitung tidak akan bisa lepas dari Sejarah Bangka Tionghoa Hakka (Khek) dan Timah , yakni oleh orang-orang Tionghoa suku Hakka. Berdasarkan sensus di tahun 1920, Total populasi orang Tionghoa Bangka mencapai 44% dari keseluruhan 154.141 jiwa.Awal sejarahnya dimulai sekitar abad ke-17, sekitar tahun 1700-1800. Berawal dari tambang timah di Bangka. Orang-orang Hakka/Khek dari Moi Jan, Hoi Nam, Kong Si, dan beberapa daerah lain di Provinsi Guangdong yang datang secara berkelompok menjadi tenaga penambang timah di Pulau Bangka, Pulau Belitung dan Pulau Singkep.
Di masyarakat, warga Tionghoa Bangka dikenal memiliki etika kesopanan yang rendah (kasar). Bagi yang masih tinggal di kampung pedalaman, etika dalam makan kurang diperhatikan, seperti makan dengan menggunakan piring dan sendok secara beramai-ramai. Namun mereka memiliki rasa kekeluargaan dan persaudaraan (solidaritas) yang sangat tinggi apabila jika dibanding dengan suku etnis Tionghoa lainnya.

6. Tionghoa Jawa (atau disebut Cina Jawa)
Awalnya daerah yang pertama didatangi oleh para perantauan asal Hokkian pada abad ke 16 adalah wilayah sekitar Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kebanyakan dari mereka laki-laki, hanya wanita, maka perkawinan campur dengan wanita pribumi banyak terjadi.
Pembawaan sikap mereka umumnya sangat sopan seperti kebanyakan orang Jawa pada umumnya. Mereka juga cukup teliti soal penggunaan uang. Ini karena kepandaian dalam berdagang bangsa Tiongkok setelah berabad-abad lamanya ternyata masih tampak jelas pada keturunannya saat ini menetap di Indonesia. Perantauan orang Hokkian dan keturunannya yang telah berasimilasi sebagian besar tersebar di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Barat Sumatera.

7. Tionghoa Jakarta (atau disebut Cina Jakarta)
Jauh sebelum Belanda membangun Batavia (kini Jakarta) pada tahun 1619, orang-orang Tionghoa sudah tinggal di sebelah Timur Sungai Ciliwung yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan itu. Mereka menjual arak, beras dan kebutuhan lainnya termasuk air minum bagi para pendatang yang singgah di pelabuhan. Namun, ketika Belanda membangun loji (bangunan bersejarah peninggalan Belanda) di tempat itu, mereka pun kemudian diusir. Setelah muncul peristiwa Pembantaian Orang Tionghoa di Batavia (tanggal 9 Oktober 1740), orang-orang Tionghoa ditempatkan di kawasan Glodok yang tidak jauh dari Stadhuisa (kini Museum Fatahillah).
Kawasan Pecinan yang bisa kita temui di Jakarta saat ini adalah kawasan Glodok, Jakarta Barat. Kawasan ini konon disebut-sebut sebagai kawasan Pecinan (Chinatown) terbesar di Indonesia bahkan dunia!
Di daerah Pecinan umumnya terdiri dari ruko (singkatan dari rumah toko) dan terdapat klenteng (dulunya disebut kuil) yang merupakan tempat bersembahyang atau tempat pemujaan Dewa-Dewi kepercayaan etnis Tionghoa. Ruko yang ada di sepanjang Pecinan digunakan untuk tempat berdagang atau berjualan, sekaligus sebagai tempat tinggal warga Tionghoa. Bangunan dan rumah yang ada di kawasan Pecinan dapat terlihat dari ciri-ciri fisiknya yang pada umumnya berupa bangunan berlantai dua. Lantai satu pada umumnya dipakai sebagai tempat usaha, sedangkan lantai dua digunakan sebagai tempat tinggal.
Saat ini warga Tionghoa Jakarta memiliki tingkatan gaya hidup yang lebih modern. Ini cukup wajar mengingat kota Jakarta adalah sebagai ibukota dan kiblat di Indonesia. Namun yang menarik adalah mereka ternyata cukup pedas dalam bertutur kata. Jangan heran juga apabila sikap cuek tanpa tegur sapa akan sering Anda temui jika melihat mereka di kompleks perumahan atau di pusat perbelanjaan. Jika pembaca tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai sejarah panjang Tionghoa Jakarta, dapat membaca artikel berikut yang berjudul ‘Menelusuri Jejak Tionghoa di Jakarta.

8. Tionghoa Phanthong (atau disebut Cina Phanthong)
Tionghoa Phanthong adalah hasil dari amalgamasi biologis antara salah satu suku bangsa Tiongkok, yakni suku Hakka dengan suku Dayak di kalimantan Barat, yang tersebar di daerah Samalantan. Populasi mereka diperkirakan mencapai 1000 orang.

9. Tionghoa Udik (atau disebut Cina Udik) :
Tionghoa udik adalah masyarakat etnis Tionghoa yang bermukim di luar benteng Batavia (ommenlanden), seperti wilayah kawasan Tanah Abang. Mereka umumnya bekerja sebagai petani yang menyuplai kebutuhan warga yang bertempat tinggal di dalam Benteng Batavia, sekaligus menjadi penahan dari masuknya musuh VOC dari Mataram.
Pada saat terjadinya huru-hara 1740, mereka melakukan pemberontakan kepada VOC yang memeras penduduk termasuk Cina Udik. Pemberontakan berhasil ditumpas dan mereka akhirnya ditumpas pada tanggal 8-10 Oktober 1740. Sisa-sisa dari mereka melarikan diri ke wilayah Tangerang dan Surakarta. Mereka yang melarikan diri ke wilayah Tangerang dan kemudian menetap serta beranak cucu disebut masyarakat ‘Cina Udik’. [JX/Tionghoa.info/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here