IFC Dukung OJK Bahas Tata Kelola Keuangan Berkelanjutan

NUSA DUA, JIA XIANG – Mempercepat pengadopsian praktik lingkungan dan sosial yang baik oleh perbankan dan meningkatkan aliran keuangan menuju pembangunan berkelanjutan di seluruh negara pasar berkembang (emerging markets) menjadi fokus dari Forum Keuangan Berkelanjutan yang hari  ini (Kamis, 1/12/16) diselenggarakan di Nusa Dua, Bali.

Pertemuan tersebut diselenggarakan bersama Jaringan Perbankan Berkelanjutan (Sustainable Banking Network – SBN) dukungan IFC (International Finance Corporation), bagian dari Kelompok Bank Dunia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), berhasil menyatukan lebih dari 300 peserta yang mewakili pembuat kebijakan di sektor keuangan, asosiasi industri, dan institusi keuangan di lebih dari 25 negara.

Pertemuan ini  juga merupakan pertemuan tahunan Jaringan Perbankan Berkelanjutan (SBN) – sebuah platform pembelajaran dan pengetahuan global yang didukung oleh IFC untuk lembaga pembuat kebijakan sektor keuangan dana sosiasi perbankan dari negara emerging markets, untuk mempromosikan gerakan tentang bagaimana  sektor keuangan dapat berkontribusi terhadap tujuan lingkungan dan sosial. Didirikan pada tahun 2012, keanggotaan SBN telah mencapai 31 negara yang tersebar di Asia, Afrika, Amerika Latin danTimur Tengah – secara keseluruhan diperkirakan aset perbankannya mencapai US$ 42,5 triliun atau lebih dari 80% dari aset perbankan emerging markets.

Agenda paling penting tahun ini adalah bagaimana mempercepat pengadopsian keuangan berkelanjutan melalui pengukuran terhadap praktik  dan dampak perbankan secara lebih baik, dan bagaimana mempromosikan kerja sama lintas batas melalui pendekatan inovatif umum, misalnya obligasi hijau.

“Pembangunan berkelanjutan tidak dapat terlaksana tanpa sistem keuangan yang kuat dan bertanggungjawab,” kata EthiopisTafara, Penasihat Umum dan Wakil Presiden untuk Risiko Perusahaan dan Keberlanjutan IFC. “Jaringan Perbankan Berkelanjutan (SBN) telah menjadi kekuatan besar dalam mempercepat pengadopsian praktik lingkungan, sosial dan tata kelola perusahaan yang menyokong sistem keuangan yang stabil dan bertanggung jawab. IFC sangat bangga dapat mendukung pekerjaan ini.”

Sejumlah negara SBN juga memperluas keterlibatannya terhadap seluruh bagian dari sektor keuangan. Contoh terkini adalah Indonesia, yang telah mempelopori pendekatan terintegrasi yang melibatkan bank, pasar modal dan penyedia layanan asuransi untukmengelola risiko sosial dan lingkungannya dan  mengembangkan solusi keuangan inovatif untuk mengatasi tantangan keberlanjutan.

Menurut Muliaman Hadad, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keungan (OJK), Republik Indonesia dan salah satu pendir iSBN, ”Kita percaya bahwa keberlanjutan sosial dan lingkungan hanya dapat dicapai melalui dukungan penuh dari sektor swasta, khususnya sektor keuangan. Dengan memobilisasi insitusi keuangan lokal untuk mengadopsi sistem dan kapasitas untuk mengelola risiko ini, kita akan dapat memanfaatkan kekuatan dari pemodal untuk mempengaruhi dan bekerja sama dengan para pebisnis lokal agar turut berkontribusi pada pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, termasuk dalam menangani kemiskinan, polusi dan pelestarian ekosistem.”

Anggota Jaringan Perbankan Berkelanjutan (SBN) meliputi pembuat kebijakan dan asosiasi perbankan dari Argentina, Indonesia, Bangladesh, Brazil, Kamboja, Chile, China, Kolombia, Ekuador, Mesir, Ghana, Honduras, Laos, Yordania, Kenya, Meksiko, Mongolia, Maroko, Nepal, Nigeria, Pakistan, Panama, Paraguay, Peru, Filipina, Afrika Selatan, Sri Lanka, Thailand, Turki, dan Vietnam.

Hingga saat ini, 13 negara telah meluncurkan kebijakan dan panduan keuangan berkelanjutan. IFC juga telah mendukung para pembuat kebijakan dalam upaya ini dengan memberikan dukungan teknis dan Standar Kinerja, yang hingga saat ini telah diberlakukan di lebih 80 institusi keuangan di dunia. [JX/Win]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here