Ikon Kota Jakarta

Jia Xiang – Langkah Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta membenahi manajemen pemerintahan ini bukan ucapan belaka. Dalam setahun masa jabatan mereka, dua petinggi ini mulai “unjuk gigi” di Ibu Kota.

Satu demi satu benang kusut mulai terurai. Walau pun tingkat kemacetan dan angka kriminalitas, dan masalah sosial lain masih cukup tinggi, tetapi langkah nyata yang dilakukan oleh Gubernur Joko Widodo, di bidang lain tampaknya membuat warga Jakarta sendiri boleh bernapas lega. Lihat saja, mulai dari penataan administrasi pemerintahan melalui lelang jabatan, penertiban anggaran,  kemudian penataan pedagang di pasar Tanah Abang dan Pasar Minggu. Lalu terakhir diikuti meneruskan proyek pembangunan monorel yang sudah lama tertunda.
Langkah yang dilakukan itu tampaknya menjadi bagian penting yang harus mendapat perhatian lebih. Tetapi usaha tersebut tidak berhenti sampai di situ. Duet Jokowi, panggilan akrab gubernur DKI Jakarta bersama wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pun berlanjut dengan meningkatkan kualitas beberapa lokasi wisata yang menjadi ikon kota Jakarta sejak lama.

Upaya yang dilakukan adalah menata kembali Taman Margasatwa Ragunan, Pasar Minggu, memperbarui fasilitas lift di Monumen Nasional (Monas) dan  revitalisasi Kota Tua Jakarta yang dilakukan hingga Maret 2014.

Perbaikan Kota Tua Jakarta ini akan dilakukan Pemda DKI bersama konsorsium pelaksana, swasta dan Badan Usaha Milik Negara. Pemda juga akan menata infrastruktur dan menanam pohon di kawasan Kota Tua. Proses revitalisasi ini  memakan waktu lama  sebab banyak prosedur yang harus dilalui,  mengingat seluruh gedung di tempat itu  bukan  milik pemdad DKI.

Sementara untuk pergantian lift Monas,  Pemda DKI menggelontorkan dana APBD Rp 4 miliar. Dana itu juga untuk memperbaiki beberapa bagian lain yang rusak. Karena itu, puncak Monas ditutup untuk umum sekitar dua bulan (21 Oktober hingga 15 Desember).

Pergantian itu karena frekuensi pemakaian lift Monas sangat tinggi beberapa tahun ini, selain usianya sudah tua. Langkah ini yang penting adalah untuk menunjang keselamatan, kenyamanan, dan kelancaran pengunjung ke tempat wisata itu.  Frekuensi penggunaan lift itu 160 kali setiap hari. Tahun 2003 hingga 2013 lift Monas sudah mengangkut 4.364.509 pengunjung.

Tampaknya warga Jakarta cukup puas dengan kebijakan yang ditempuh gubernur DKI. Bahkan sebuah survei tentang mengukur tingkat kepuasan masyarakat tentang kepemimpinan gubernur dan wakilnya selama setahun, dilakukan Indo Barometer  memperlihatkan hasil bahwa kepuasan warga Jakarta terhadap kinerja gubernur mencapai 87,5 persen. Sedangkan kepuasan terhadap kinerja Ahok mencapai 85,8 persen.

Kepuasan itu  terkait penyediaan  fasilitas kesehatan dan pengobatan, menurunkan biaya kesehatan, menyediakan fasilitas pendidikan dan menurunkan biaya pendidikan.

Di sisi lain, masyarakat masih belum puas dengan upaya  mengatasi kemacetan. Bahkan, dinilai sama dengan kepemimpinan Fauzi Bowo. Tetapi dengan lanjutkannya pembangunan  monorail, maka ini bisa dianggap terobosan dalam mengatasi kemacetan.  Dan tampaknya warga Jakarta masih harus bersabar dengan hingga beberapa tahun ke depan, sebelum menikmati fasilitas angkutan umum tersebut.

Yang pasti, Jokowi-Ahok tidak ingin terjebak dalam  perdebatan dan kritikan seputar hal itu-itu saja seperti kemacetan, banjir, sampah, pejabat yang bobrok, dan persoalan lain yang mendorong ke perdebatan tak habis-habisnya.

Dua petinggi DKI Jakarta ini, terus berjalan lurus, menerapkan program unggulan mereka, yang tidak lain adalah mengembalikan citra dan ikon kota ini. Tempat-tempat vital yang selama ini terabaikan, bahkan terkesan dikelola seadanya,  ingin dikembalikan lagi oleh gubernur, sehingga bisa menjadikan Jakarta destinasi wisata dan sekaligus meraup rupiah.

Karena itu, Pemda DKI secara serius menata kembali TMR, Kota Tua dan Monas, yang pada masa lampau pernah menjadi ikon tempat wisata unggulan di Ibu Kota ini.  [Edwin K]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here