Imlek bagi Bangsa Indonesia

Tahun Baru Imlek kembali dirayakan di seluruh muka bumi termasuk di Indonesia. Melihat kondisi Indonesia yang saat ini belum susuai harapan dan cita-cita para pendiri negeri sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945, maka Imlek harus dimaknai dalam keprihatinan serta kerja keras.

Imlek 2564 yang kini jatuh jatuh pada tanggal 10 Februari 2013 tetap harus dirayakan, tetapi bukan dalam konteks hura-hura, melainkan lebih didasari sebagai rasa bersyukur yang dibarengi tindakan berbagi kepada saudara, keluarga dan masyarakat sebagai satu kesatuan warga negara Indonesia.

Sebab Imlek saat ini, khususnya di Indonesia harus dimaknai bukan hanya sebagai ritual kebudayaan, bahkan suatu agama tertentu saja. Imlek harus dimaknai sebagai rasa syukur sekaligus medium bagi persatuan dan kesatuan bangsa.
Itu bukan berarti mencampur-adukan ritual apalagi akidah agama. Tentu saja hal itu tidak boleh terjadi. Tetapi dalam konteks Imlek sebagai proses panjang dari sebuah budaya, maka Hari Raya Imlek pada hakikinya boleh menjadi milik segenap anak bangsa dalam konteks masyarakat dan bangsa.

Fakta telah tercatat, dan tidak bisa dipungkiri, bahwa Indonesia sebagai bangsa adalah bangsa yang plural. Beragam suku dan etnis serta bermacam agama dan keyakinan bersatu padu lantaran diikat oleh konstitusi negara menjadi satu bangsa dalam negara kesatuan Republik Indonesia.

Jika kita menoleh ke belakang sejenak memang bangsa Indonesia sarat dengan berbagai peristiwa yang pasang surut yang kadang membuka celah terjadinya disintegrasi bangsa. Simak saja soal Imlek di Indonesia.

Di tahun 1968 hingga 1999, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Hal itu dicatat dalam Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, di bawah pemerintahan rezim Orde Baru Imlek dan segala hal yang berbau Tionghoa dilarang.
Namun, hal itu kembali diluruskan. Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Inpres Nomor 14/1967 dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 serta  meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Yang kemudian pada tahun 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri yang dimulai tahun 2003.

Di Negara asalnya yaitu Tiongkok Perayaan Tahun Baru ini juga disebut Perayaan Musim Semi (Chung Chie atau The Spring Festival). Secara resmi perayaan ini kemudian disebut Chinese New Year (Tahun Baru Chinese).

Tapi kita bukan mau mengupas sejarah atau asal-usul Imlek sebagai proses budaya panjang yang sudah mendunia, melainkan dalam konteks Indonesia Imlek harus dimaknai sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa Indonesia masih eksis sampai kini.

Tetapi kita juga harus prihatin bahwa di negeri ini masih banyak yang harus dikerjakan. Baik oleh pemimpin negeri, ulama sampai individu-individu dari masyarakat Indonesia. Kita masih harus bekerja keras membangun negeri.

Kemiskinan masih harus diberantas, pendidikan masih harus diratakan agar segenap generasi muda sebagai penerus bangsa, baik itu di kota-kota maupun dipelosok agar mendapat kesempatan untuk menimba ilmu dengan murah bahkan gratis.

Begitu juga dengan pengangguran yang masih menjadi pergulatan negeri ini. Lapangan kerja yang terbatas masih harus terus dikembangkan. Gaji yang rendah masih harus terus ditingkatkan agar kesejahteraan masyarakat meningkat. Itu sebabnya sudah tidak pada tempatnya mempersoalkan Imlek dalam konteks perbedaan, melainkan Imlek harus digunakan sebagai medium untuk bersilaturahmi dan tolong-menolong antar sesama anak negeri yang memang berbeda-beda.

Dengan Imlek kiranya bangsa ini bisa bersatu-padu tanpa melihat latar belakang, suku dan etnis. Yang pasti masyarakat Indonesia adalah masyarakat plural. Perbedaan semestinya tidak boleh menjadi kelemahan, tetapi sebaliknya harus menjadi kekuatan. Apalagi jika bangsa ini menjadi lemah dan negara ini runtuh hanya karena ada anak negeri sebagai bagian dari bangsa Indonesia merayakan Imlek. Mari bersyukur dan berbagi kepada sesama saudara sebangsa. Gong Xi Fa Cai! [Iman Sjahputra]

SHARE
Previous articleMenjaga Moral
Next articleSoal Impor Buah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here