Imlek, Momentum Bangun Persaudaraan

Besok, tepatnya hari Jumat (31/1/14), saudara-saudara kita dari etnis Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek 2565.  Kegembiraan, dan kemeraiahan menyambut pergantian tahun itu, sudah terlihat di berbagai tempat. Bahkan saudara-saudara kita itu sudah mempersiapkan diri untuk menyambut  tahun baru itu.

Apakah kegembiraan dan keceriaan diperalihan tahun ini, juga menjadi ukuran bagi kita dalam menjalani kehidupan sepanjang tahun Kuda Kayu ini? Apalagi, tahun ini negeri kita akan menjalani pesta demokrasi terbesar dalam sejarah bangsa, yaitu pemilihan anggota legislatif dan presiden/wakil presiden.

Yang diharapkan adalah kegembiraan ini, akan memberi kegembiraan lain pula bagi kita semua dalam menjalani pesta demokrasi tersebut dengan penuh damai. Hanya saja persoalannya sekarang, kita harus mampu bersama-sama semua elemen di masyarakat  untuk memanfaatkan suasana politik di negeri ini untuk tetap menjunjung perdamaian.

Dengan kata lain, kita harus mampu menjaga soliditas kehidupan bersama, saling menghormati, membantu, dan memperhatikan. Jangan ada lagi dusta, curiga, dan saling tidak percaya satu dengan lainnya. Perlu diingat adalah keberagaman dan kebersamaan kita adalah modal utama yang menjadi fondasi dalam menjaga keutuhan  bangsa ini.

Kalau dulu saudara-saudara kita, etnis Tionghoa, pernah merasakan bukan menjadi bagian dari bangsa ini, sehingga ada “keengganan dan keraguan” untuk terlibat dalam berbagai hal. Dengan kata lain kehidupan sosial bangsa ini sudah sejak lama dibuat tidak harmonis. Bahkan di era kolonial, memecah atau mengelompokan etnis, yang berujung pada  terbatasnya hubungan dan ruang gerak. Akibatnya bisa muncul rasa curiga, cemburu, yang satu lebih unggul dari lainnya, bahkan ada istilah penduduk asli dan pendatang.

Tetapi kini, suasananya sudah tidak seperti itu lagi. Semua sudah berubah, terbuka, dan tiada lagi sekat pemisah yang membedakan antara “kami” dengan “engkau”. Dan yang pasti rasa kebersamaan sebagai bagian dari bangsa ini adalah kekuatan dahsyat untuk menyatukan sifat-sifat positif dalam memupuk hubungan antarpersonal di dalam negara kesatuan Republik Indonesia.

Karena itu, tepatlah kiranya Tahun Baru Imlek ini dijadikan momentum untuk  memperkuat kembali hubungan antarpersonal, persaudaraan, dan tali silaturahmi sebagai bangsa yang besar ini. Soliditas kebersamaan harus tetap terjaga, jangan hanya sebatas “lips service” yang biasanya hanya menyenangkan orang kala diucapkan. Di balik itu semua, ternyata penuh kecurigaan dan kecemburuan.

Jadi, perayaan, keramaian, dan kemeriahan, hendaknya bukan menjadi tujuan utama, tetapi menjaga soliditas itulah kunci utama membangun dan membesarkan bangsa dan negeri tercinta ini. Selamat Tahun Baru Imlek. Gong Xi Fa Chai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here