Imlek, Semangat Kebersamaan

Perayaan Tahun Baru Imlek 2565 yang jatuh pada tanggal 31 Januari 2014 seperti biasa akan menjadi kemeriahan sendiri bagi saudara-saudara kita, etnis Tionghoa.

Di berbagai media sudah bermunculan berita mengenai persiapan menjelang Imlek, mulai dari membersihkan kelenteng, rupang atau patung para dewa, sampai kepada pernak-pernik lain hingga kue dan dodol yang menjadi penganan utama pada setiap perayaan itu.

Banyak juga yang membahas makna yang terkandung dalam Imlek bagi kehidupan etnis Tionghoa.  Bagi mereka perayaan Tahun Baru Imlek,  selalu diawali dengan berbagai kegiatan ritual yang bukan hanya membersihan rumah dan semua peralatannya, tetapi juga “membersihkan diri”, sehingga mampu menyambut kebahagiaan baru dengan semangat dan spirit baru juga.

Semangat memperbarui dan membersihkan diri ini, diharapkan mampu lebih mengakrabkan rasa kebersamaan di dalam keluarga. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, warga etnis Tionghoa diharapkan juga menularkan rasa kerbersamaan dan kekeluargaan itu tercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena itu, sudah waktunya bagi semua warga Indonesia, tidak terkecuali etnis Tionghoa yang sudah menjadi bagian dari komponen bangsa ini, bangkit bersama dan  bersatu mengatasi masalah yang kita alami di negara ini. Apalagi belakangan ini bencana alam seperti banjir dan tanah longsor terjadi di mana-mana. Banyak korban bencana membutuhkan bantuan, maka dengan semangat Imlek ini, kita tunjukan kebersamaan, rasa persaudaraan, cinta kasih, tolong-menolong, dan saling memperhatikan.

Kembali ke media, belakangan ini banyak sudah diberitakan keterlibatan etnis Tionghoa membantu para korban bencana. Lebih luas lagi, mereka membantu banyak orang yang memang membutuhkan pertolongan.

Untuk itu, bagi  sebagian orang, khususnya etnis Tionghoa, perayaan Impek kali ini tidak dirayakan secara besar-besaran. Biasanya setiap Imlek dan Cap Go Meh selalu ada tradisi gotong Toapekong dalam kirab budaya Tionghoa misalnya, yang sering dilakukan di Kota Bandung, Jawa Barat. Namun tahun ini, kirab tersebut ditiadakan.

Keputusan itu dilakukan untuk kepentingan dan kebaikan bersama dengan alasan menghormati  pelaksanaan pemilihan anggota legislatif dan presiden/wakil presiden yang digerlar tahun ini.

Ini sebenarnya sebuah keputusan bijak, dan membuktikan kematangan dan kedewasaan berpikir sebagai warga yang menjadi bagian dari negara ini. Keputusan ini juga diambil sebagai bukti bahwa mereka lebih mendahulukan kepentingan yang lebih besar, untuk masa depan bangsa dan negara ini.

Sekarang tinggal kita masing-masing, bagaimana menyikapi kondisi yang ada saat ini. Maukah kita berpikir mengedepankan kepentingan yang lebih besar, atau ego pribadi lebih utama?

Kalau dulu di era Orde Baru, perayaan Imlek dilakukan secara diam-diam, tertutup, tapi di zaman Gus Dur (alm) menjadi orang nomor satu di negeri ini, terbuka kembali pintu bagi etnis Tionghoa untuk merayakan kembali bebagai tradisi dan budaya etnis tersebut secara terbuka. Sejak itu, perayaan Imlek pun dilakukan secara terbuka, dan meriah.

Tetapi kini, dengan kita diingatkan kembali bahwa kondisi sosial di negeri ini banyak diwarnai persoalan kemanusiaan. Dan yang lebih besar lagi kondisi politik negeri ini mulai panas menjelang pemilu. Untuk itu, kita semua harus bisa ikut menjaga agar suasana kerbersamaan di negeri ini tetap kondusif, tanpa ditunggangi beberapa “hal” lain.

Yang pasti kesederhanaan dan keprihatinan akan lebih banyak memberi warna pada perayaan Imlek tahun ini. Banyak hal yang harus dipertimbangkan, dan banyak hal pula yang harus didahulukan. Di sinilah sikap kita dinilai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here