Indonesia Butuh PLTN

Jumlah penduduk dunia yang terus bertambah membuat cadangan energy listrik pun semakin langka. Begitu pula di Indonesia, kebutuhan energi listrik terus meningkat dari tahun ke tahun. Tak heran jika Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PL TN) kini menjadi alternatif pilihan.

Kenyataannya, Indonesia masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) untuk memenuhi kebutuhan energi listrik dalam negeri. Meskipun banyak dibangun pembangkit listrik tenaga uap atau pembangkit listrik tenaga air (PLTA), namun hingga kini, PLTD masih menjadi tulang punggung  pasokan energi di tanah air.

Energi terbarukan seperti tenaga angin, surya, panas bumi, dan gelombang laut belum juga memberi hasil optimal. Badan Energi Tenaga Nuklir International (IAEA) menyebutkan, subsidi energy terbarukan hanya menyediakan 6 persen listrik dunia pada pada masa datang. Karena itu, energy nuklir melalui PLTN kini mulai dikembangkan, termasuk di Indonesia.

Pada seminar Energi Nuklir di Indonesia yang digagas Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), Jumat (29/11/13), di Jakarta, wacana pengembangan PLTN tersebut kembali bergulir.

Menurut Deputi Kepala BATAN, Ferhat Aziz kepada Jia Xiang Hometown, Indonesia harus mengembangkan energi nuklir, sebab energi terbarukan tidak mampu memenuhi kebutuhan di masa datang. Sedangkan, energy tenaga surya dan angin belum maksimal, dan geothermal (panas bumi) terkendala lokasi dan hal-hal teknis. Kalau PLTA hampir habis terpakai atau berada jauh dari pusat beban. Secara teknis, BATAN siap PLTN, karena sudah lama mempelajari sisi pengoperasian dan perawatan reaktor nuklir.

Masyarakat pun tak perlu khawatir bahaya radiasi nuklir, sebab tingkat keamanan reaktor nuklir kini sangat tinggi. IAEA mempunyai batas tolerasnsi radiasi PLTN bagi pekerja dan masyarakat di luar kawasan reaktor. Bagi pekerja di reaktor nuklir, biasanya terpapar 20 mSv/tahun, dalam 5 tahun (100 mSv selama lima tahun), dosis maksimum setahun 50 mSv. Dalam keadaan darurat mencapai 50-200 mSv per sekali papar. Sedangkan bagi masyarakat umum hanya 1 mSv per tahun, dalam jangka waktu lima tahun.

Pada dasarnya manusia setiap hari terpapar berbagai partikel, misalnya, menghisap satu bungkus rokok setara terpapar 1.000 mSv, sehinnga berisiko terkena kanker. Bila Indonesia mengembangkan PLTN, maka bisa menggunakan teknologi generasi ketiga (G3) lebih moderen dari PLTN Chernobyl, Rusia (G1) dan Fukushima, Jepang (G2). Teknologi sistem keselamatan G3 standar berteknologi maju dengan limbah minimal.

Karena itu, pembangunan PLTN di Indonesia harus dilakukan bertahap, yaitu dimulai membeli secara keseluruhan teknologi dari negara yang berkompeten. Tahap kedua, setengah merupakan karya Indonesia, dan tahap ketiga seluruhnya karya bangsa Indonesia. Yang paling penting adalah PLTN di Indonesia harus dirancang sesuai kebutuhan negara kepulauan.

Sementara Kepala Batan, Djarot Wisnubroto mengatakan, dari sisi penelitian dan pengembangan, BATAN siap bila pemerintah membangun PLTN, namun yang membangun bukanlah BATAN, melainkan pihak perusahaan swasta  atau BUMN.  [JX/W1/U1]

 

 

*) Artikel ini dimuat di Majalah Jia Xiang Hometown, Edisi 23/2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here