Indonesia Masih Bisa Bangkit

Jia Xiang – Tiga puluh September dikenal sebagai pemberontakan oleh Gerakan 30 September dipimpin Letkol Untung dari Cakrabirawa, resimen pengawal Presiden Soekarno di tahun 1965. Tapi pada 30 September 1945 sebetulnya juga ada “kudeta unik” yang gagal yaitu Surat Wasiat Tan Malaka. Tokoh senior ini berhasil memperoleh semacam surat wasiat bahwa bila terjadi sesuatu terhadap diri kedua proklamator maka pimpinan nasional akan diserahkan kepada Tan Malaka dan 3 orang lain. Ini semacam dokumen penyerahan kekuasaan bila terjadi sesuatu terhadap Bung Karno dan Bung Hatta.
Tapi Tan Malaka tidak pernah berhasil karena memang kalah popular dari Bung Karno, malahan Tan Malaka ditahan PM Sutan Syahrir karena terlibat dalam gerakan penculikan PM Syahrir pada 3 Juli 1946 yang dikenal sebagai peristiwa kudeta 3 Juli. Jadi Indonesia sejak awalnya sudah diwarnai suksesi dan kudeta berbau kekerasan penculikan lawan politik.
Pemberontakan PKI Madiun DI TII dan PRRI Permesta mengisi sejarah Republik sapai 1958 dan  kemudian Bung Karno juga mengalami beberapa kali percobaan pembunuhan seperti digranat di Cikini dan dibrondong di Sulawesi Selatan, ditembah ketika Sholat Idul Adha dan banyak lagi. Ketika MPRS meminta Bung Karno bertanggung jawab atas G30-S, maka dia menanyakan mengapa Menko Hankam KASAB Jendral Nasution tidak ditanya  atas percobaan pembunuhan terhadap Soekarno? Riwayat Ken Arok Indonesia sudah sering kita jumpai sampai hampir bosan menulisnya.
Nasution diangkat oleh Burhanudin Harahap jadi KSAD tapi kelak malah menahan Burhanudin sebgai tapol karena terlibat pembrontakan PRRI/Permesta. Tapi sebagian elite PRRI Permesta kemudian diberi amnesti dan boleh berbisnis.
Penghancuran total terhadap sebuah partai seperti PKI hanya terjadi sekali di Indonesia. Nasi sudah menjadi bubur tidak perlu ditangisi. Dalam tempo 6 bulan PKI dilumpuhkan dan dihancurleburkan tanpa bekas. Tapi Soeharto juga tidak mengizinkan Masyumi PSI dihidupkan kembali. Dengan sistem repressive development regime, Soeharto bertahan 32 tahun dan Indonesia kembali mempraktekkan demokrasi liberal.
Sementara RRT sejak Deng Xiao Ping sudah kembali ke pasar karena Marxisme gagal mendeliver sembako kepada rakyat Tiongkok. Dengan sistem pasar sejati Tiongkok bangkit malah mengejar dan mendahului Indonesia yang justru telah kembali ke pasar 25 tahun lebih dulu.
Itulah situasi yang dihadapi September 2013 menjelang pemilihan umum 2014 untuk memilih presiden ke-7. Rakyat Indonesia suka lupa sejarah  apalagi sudah jauh tahun 1965, yang 1998 saja sudah dilupakan. Tapi, Tuhan tetap punya hukum karma yang adil. Seperti kata Joyoboyo, akhirnya yang eling dan waspada yang akan menang yang ikut edan pasti akan mengalami hukuman.
Indonesia tetap bisa bangkit walau masih harus mengalami tangkap tangan model Rudi Rubiandini. Itu sebabnya pilihlah presiden ke-7 yang tepat dan bersih dari masalah dan dosa masa lalu.
Selamat ulang tahun ke-68 Indonesia. Peristiwa sejarah memaknai kehidupan kita.  sebagai bangsa terbesar nomor 4 dunia walau secara angka dan belum secara kualitas, karena jutaan orang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here