Instruksi dari Pinggir Ciliwung

Ibarat anak kembar yang mendapat perlakuan berbeda, begitulah kejadian yang menimpa Kanal Banjir Timur (KBT) dan Kanal Banjir Barat (KBB). Jika “perut” KBT kala banjir melanda Jakarta pada Kamis (17/1/13) hanya diisi secukupnya, sebaliknya KBB “perut”nya jebol lantaran tidak mampu menahan limpahan air.
Akibatnya, air yang berasal dari perut KBB menerjang liar hingga ke basement Gedung United Overseas Bank (UOB), Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Jebolnya KBB, korban jiwa dan harta benda pun tidak bisa dihindari. Padahal KBB yang dibangun pada masa pemerintahan Kolonial Belanda tahun 1920, dari Pintu Air Manggarai hingga ke Muara Angke sepanjang 17,3 km, sudah berulang kali dilakukan peningkatan kapasitas tampungan hingga penguatan strukturnya.
Namun apa mau dikata, akibat “pembantaian” tata guna lahan di kawasan hulu, seperti Bogor dan Puncak, Jawa Barat dewasa ini menyebabkan peningkatan debit air yang masuk ke “perut” KBB. Aliran air dari Kali Baru, Kali Cideng, Kali Krukut, dan Kali Angke menyebabkan KBB tidak mampu menampung tingginya debit air.
Meskipun  pada tahun 2007 – 2009 telah dilakukan peningkatan kapasitas dan penguatan tebing KBB sepanjang 14,8 km mulai dari Pintu Air Manggarai sampai jembatan Pantai Indah Kapuk (PIK), namun tetap saja “perut” KBB jebol dan PIK terendam berhari-hari.
Sementara itu KBT yang melintasi 13 kelurahan, diantaranya 2 kelurahan di Jakarta Utara dan 11 kelurahan di Jakarta Timur dengan panjang 23,5 kilometer, serta biaya pembangunannya sebesar Rp4,9 triliun dimaksudkan  mampu mengurangi 16 kawasan rawan genangan. Antara lain Yos Sudarso, Sunter Timur, Pulo Mas, Pulo Mas Nangkarawa Badak, Tugu Lagoa, Tugu Utara, Perum Walikota Jakut, Kelapa Gading, Rawa Bunga, dan Cipinang Jaya.  Tetapi pada kenyataanya masih kurang efektif juga,  karena pada banjir pertama di tahun 2013 ini tetap saja air “menenggelamkan” wilayah-wilayah tersebut.
Yang pasti di tahun ular air kali ini, lagi-lagi banjir mengakibatkan kerugian bagi Jakarta. Belum ada angka pasti atas kerugian yang ditimbulkan. Namun, banyak pihak memprediksi angka kerugian mencapai belasan triliun rupiah,  lantaran “lumpuhnya” aktivitas ibukota, akibat rusaknya infrastruktur, degup perdagangan dan ekonomi terhenti bersamaan dengan putusnya urat nadi transportasi.
Ada hal lain, ternyata keberadaan KBT pun “dipersoalkan” lantaran tidak maksimal dalam mengurangi terjangan air di musim penghujan. Katanya beban KBB dan KBT tidak seimbang.  Melihat kondisi itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Minggu (20/1/13) mengadakan rapat koordinasi guna menanggulangi banjir Jakarta. Namun rapat kali ini tidak dilakukan di dalam Istana Kepresidenan melainkan di dalam gedung Gelanggang Olah Raga (GOR) Otista, Jakarta Timur. Usai rapat presiden melanjutkan peninjauan langsung Kali Ciliwung di Jakarta Timur.
Para pejabat yang hadir dalam rapat tersebut diantaranya Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) Agung Laksono, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, perwakilan DPR RI, dan perwakilan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Dari pinggir Sungai Ciliwung yang tengah meluap hingga menenggelamkan Kampung Pulo, Jakarta Timur itu, presiden  mengeluarkan dua instruksi prioritas terkait solusi penanganan banjir Jakarta. Prioritas pertama adalah pembangunan sodetan (terusan) dari Kali Ciliwung ke arah KBT. Prioritas kedua adalah penertiban sepanjang bantaran Kali Ciliwung. Tentu saja warga Jakarta memberi apresiasi atas kepekaan yang ditunjukkan presiden. Mudah-mudahan instruksi dari pinggir Kali Ciliwung itu bisa memadamkan “kemarahan” Ciliwung terhadap warga Jakarta setiap kali musim hujan. [Iman Sjahputra]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here