Jakarta Andalkan Transportasi Massal Berbasis Rel

Angkutan massal kereta menjadi andalan Jakarta untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. (Foto: Ist./W5)

JAKARTA, JIA XIANG – Transportasi massal berbasis rel akan pula menjadi andalan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI untuk mengatasi kemacetan di Jakarta. Untuk itu, Pemprov DKI sangat mendorong optimalisasi angkutan kereta baik yang lama, yang sedang dibangun dan akan dibangun.
Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (4/2/15), di negara morden seperti Jepang sangat mengandalkan transportasi massal berbasis rel. Sistem transportasi massal berbasis rel di sana sangat bagus, sehingga mengurangi kepadatan lalu lintas di jalan raya, kendati masih ada juga kemacetan.
Jakarta, yang kemacetan lalu lintasnya sudah sangat parah, menurut Gubernur, tidak bisa tidak harus meniru kota-kota di Jepang yang mengadalkan transportasi massal berbasi rel. “Kalau tidak mempunyai sistem transportasi berbasis rel pasti macet,” tandas Ahok, demikian sapaan akrabnya.
Oleh sebab itu, jaringan kereta di Jakarta dan sekitarnya, termasuk di dalam kota Jakarta, paparnya, harus semakin dioptimalkan tahun ini. Jalur kereta Tanjung Priok – Kota, dia mencontohkan, harus bisa berfungsi baik. Begitu pula transportasi ke Bandar Udara Soekarno Hatta, lanjutnya, harus pula didukung oleh angkutan massal berbasis rel. Proyek Mass Rapid Transit (MRT) yang sedang dalam tahap pengerjaan harus rampung sesuai dengan rencana.
Bila semua jaringan transportasi massal berbasis rel ini rampung, Ahok optimistis kemacetan lalu lintas di Jakarta bisa diminimalisasi.
Tentang pembangunan kereta ke Bandar Udara Soekarno Hatta, menurut Wakil Gubernur DKI Djarot Saiful Hidajat, diharapkan rampung pada tahun 2016. “Ini sesuai rencana pembangunannya,” katanya seusai menghadiri pertemuang dengan jajaran Kementerian Perhubungan di Jakarta, Selasa (3/2/15) lalu.
Pembangunannya, jelas Djarot, menjadi tanggung jawab PT Angkasa Pura II yang dibiayai dari anggaran pemerintah pusat. Jaringan kereta bandar udara ini, paparnya, dari Manggarai, Jakarta Selatan. Bila pembangunannya telah rampung, dia pun optimistis dapat mengurangi kemacetan di Jakarta. “Itu sangat membantu untuk mengurangi kemacetan di Jakarta. Karena orang akan lebih efisien, lebih cepat menggunakan kereta,” ujarnya.
Kini, jelasnya, sedang dilakukan persiapan pembangunannya. Untuk menyelesaikannya diperlukan waktu 10 bulan. Panjang jalur kereta ini kurang lebih 12 kilometer. Jaringan relnya dari Poris Plawad (akan diubah menjadi Stasiun Batu Ceper) hingga Bandara Soekarno-Hatta. Sementara itu, dari Stasiun Batu Ceper sudah ada jalur kereta ke Stasiun Kalideres-Rawa Buaya-Kembangan-Pesing-Grogol-Duri-Tanah Abang-Sudirman-Manggarai. Nantinya stasiun kereta api tersebut akan terhubung langsung dengan seluruh terminal kedatangan dan keberangkatan bandara melalui bangunan yang terintegrasi. [JX/W5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here