Jakarta Menunggu Pendatang Baru?

Sabtu ini tepatnya, H-4 Lebaran, Jakarta, ibu kota negara, mulai terlihat lengang. Hanya di setiap stasiun, terminal masih terlihat hiruk pikuk lantaran banyak warga yang hendak mudik. Entah sudah berapa puluh ribu atau ratusan ribu warga yang mudik meninggalkan Jakarta. Yang pasti Jakarta mulai terlihat sebagai kota sedikit lengang.

Seperti biasa pada hari raya, atau hari besar, Kota Jakarta tidak terlihat seperti biasa yang diwarnai kemacetan, keramaian, dan lalu-lalangnya kendaraan, ramainya tempat-tempat belanja, pasar atau pusat keramaian lainnya.

Bunyi  klakson, debu kendaraan bermotor, kemacetan dan aneka keruwetan lainnya, sudah mulai berkurang. Sebagian kawasan kota ini mulai sepi, walaupun demikian masih ada saja beberapa tempat masih dipadati orang yang berbelanja, atau hanya sekadar melihat-lihat.

Melihat kondisi Jakarta seperti ini, seolah-olah lepas dari segala persoalan dan keruwetan. Tapi itu hanya sementara. Bila liburan usai, maka kondisi semula berangsur-angsur pulih.  Bahkan setiap liburan hari besar seperti ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selalu mengimbau warganya yang mudik, untuk tidak  membawa orang lain, atau anggota keluarga dan kawan lainnya dari kampung ke Jakarta.

Tampaknya imbauan ini hanya sekadar imbauan. Pelaksanaannya, masih saja ada orang baru yang berdatangan. Entah apa yang dicari di Ibukota ini. Yang pasti beban  kehidupan keluarga menjadi bertambah, dan secara keseluruhan mungkin jumlah pengangguran pun bertambah.  Yang dikhawatirkan, bila kondisi ini terulang terus, bukan tidak mungkin, tanpa menuduh, tingkat kriminal bisa saja meningkat.

Inilah yang setiap tahun diantisipasi oleh Pemprov DKI. Tetapi sekali lagi, imbauan hanya imbauan, kenyataannya berkata beda.  Tanpa menghiraukan data sahih yang ada, yang pasti ada saja sejumlah pendatang baru yang menjadi calon penghuni kota ini.

Seperti biasa lagi, setelah liburan usai, pemerintah provinsi ini pun menggelar operasi KTP atau istilah kerennya operasi Yustisi. Bagi  mereka yang tidak memiliki KTP tetap DKI, akan dipulangkan.  Bagus, bila langkah ini konsekuen di lakukan.

Tetapi kenyataannya kita tidak pernah tahu sebenarnya seberapa banyak warga baru yang datang ke Jakarta. Dan seberapa banyak pula mereka yang dikembalikan ke kampung  halaman masing-masing.  Yang tersiar hanya sepenggal, sepenggal berita bahwa ada orang yang dipulangkan. Tampaknya operasi penertiban seperti ini, jangan dilakukan sebatas usai liburan hari raya. Dan yang  perlu diingat pula bahwa jangan operasi ini di kalangan kelas bawah. Di kalangan kelas atas pun pasti ada model pendatang seperti ini. Dan lagi-lagi, tindakan tegas harus diberikan.

Bahkan penertiban bagi warga-warga kelas atas harus lebih jeli dan tegas, sebab pasti mereka memiliki seribu alasan untuk menghalangi anggota keluarganya dipulangkan ke kampung. Bagi warga kelas bawah, pasti tidak akan banyak berargumentasi, begitu tertangkap operasi, langsung dipulangkan.

Nah sekarang, apa yang akan dilakukan Pemerintah Provinsi DKI seusai liburan hari raya ini? Akankah pemerintah kota ini bertindak tegas? Sudahkan pemerintah ini memiliki data seberapa banyak warganya yang pulang kampung? Bagaimana memonitor kedatangan mereka? Sudah adakah mekanisme pengawasan dan pemeriksaannya?

Semua ini menjadi bahan pemikiran dan pekerjaan yang tidak mudah. Mungkin pemerintah provinsi ini sudah memiliki mekanisme mengatasi pendatang baru. Hanya tinggal pelaksanaannya saja. Ya diharapkan sebenarnya  bukan hanya sekadar memulangkan mereka, tetapi  mampukah pemerintah provinsi DKI Jakarta membatasi jumlah penduduknya saat ini? Apakah jumlah yang sekarang ini menjadi beban yang begitu berat? Sudah tentu, lalu dengan bertambahnya penduduk baru, maka makin berat juga persoalan yang timbul. Dan makin ruwet lagi kota ini. Yang pasti selamat berlibur dan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here