Jakarta Tambah Tua Tambah Bijaksana

Upacara peringatan HUT Ke-489 Kota Jakarta digelar di Lapangan Monas, Rabu (22/6/16). Kali ini HUT Jakarta berbarengan dengan bulan Ramadhan. Karena itu tidak heran bila, Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama dalam upacara itu, tidak berbicara panjang lebar tentang kota ini, keberhasilannya atau persoalan lainnya.

Yang pasti Gubernur berkeinginan Jakarta menjadi kota yang bersih dan setara dengan kota-kota lain di negara maju. Bagaimana mencapai keinginan itu, intinya adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Artinya, menurut Gubernur membangun manusia  baik yang tinggal di Jakarta maupun yang datang di Jakarta.  Sementara pembangunan infrastruktur hanya akses untuk mencapai cita-cita atau keinginan tersebut.

Lalu Ahok, sapaan akrab Gubernur DKI ini, menyebutkan beberapa program unggulan Pemprov DKI, mulai dari pelayanan terpadu satu pintu (PTSP), Smart City, e-budgeting sampai kepada keberadaan petugas pemeliharaan prasarana dan sarana umum (PPSU). Semua program tersebut tidak lain adalah untuk mendukung supaya orang Jakarta hidup lebih aman, nyaman, dan  sejahtera. Istilah Ahok,  otak kiri dan kanan penuh, perutnya penuh, dan dompetnya juga penuh.

Dengan kata lain, makmurnya warga Jakarta mencerminkan semakin makmur pula kota tersebut. Namun tidak mudah, banyak rintangan dan tantangan yang dihadapi Ahok dalam menjalankan roda pemerintahan di ibu kota negeri ini.  Tidak sedikit pula kebijakan yang dibuat oleh Pemprov DKI ditentang oleh warga yang terkena dampak.

Dari segi aparat pemerintahan di Jakarta, Ahok pun tidak sedikit mendapat tantangan. Tidak heran bila Gubernur harus bongkar pasang, pejabat di berbagai instansi di lingkungan Pemprov DKI yang dinilainya tidak becus dalam menjalankan tugas. Belum lagi menjelang pemilihan gubernur Jakarta tahun depan. Banyak sorotan ditujukan pada gubernur. Bahkan sorotan, sindiran, kritikan, dan apa pun namanya, berkesan menyudutkannya.

Yang pasti selama ini warga Jakarta sudah merasakan, dan dapat dilihat langsung, dampak pembangunan dan perubahan yang dilakukan pemprov DKI saat ini.  Banyak hal atau perubahan yang bisa disebutkan satu per satu, tetapi tampaknya itu terlalu banyak. Hanya warga Ibukota sendirilah yang bisa merasakan dampak pembangunannya.

Tanpa menyebutkan keberhasilan program pembangunan di Jakarta, rakyat sudah merasakannya. Bahkan bukan rakyat Jakarta saja, tetapi warga dari wilayah lain, yang mencari nafkah di Jakarta ikut merasakan keberhasilan program pembangunannya.

Semua yang dicapai itu, memperlihatkan betapa seriusnya Pemprov Jakarta ingin menjadikan kota ini setara dengan kota di negara maju lainnya.  Hanya saja, itu tidak mungkin dicapai sendiri oleh seorang Gubernur Ahok, tetapi dibutuhkan dukungan dan sokongan dari seluruh warga Ibukota. Apa arti sebuah program, kalau hanya bisa diterapkan di atas kertas. Sebab jauh lebih penting bisa diimplimentasikan di lapangan. Tetapi implimentasi itu hanya bisa berjalan apabila diterima warganya dan dilaksanakan bersama-sama warganya.

Tanpa kebersamaan bersama warga, maka apa pun yang diinginkan atau dicita-citakan, mustahil terlaksana dengan baik. Dengan kata lain, perjalanan masih panjang dan terjal. Masih dibutuhkan waktu, dan kucuran keringat dalam membangun kota ini.

Usia 489 tahun, pada dasarnya sudah sangat renta. Namun, tidak untuk Jakarta yang harus semakin bersolek, supaya lebih menarik, indah, dan benar-benar mencerminkan sebuah kota berkaliber Ibu Kota negara. Seperti kata Ahok, “Semoga tambah tua, tambah bijaksana.”***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here