Jangan Lupakan Saudara Kita

Oleh: Iman Sjahputra

Beberapa hari belakangan ini ada dua peristiwa yang memiliki kualitas pemberitaan sangat menarik di negeri kita ini. Pertama adalah bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kedua, pendaftaran calon gubenur dan wakil gubernur DKI Jakarta untuk ikut dalam kontes Pilkada yang akan digelar pada tahun 2017.

Ketiga adalah sidang pembunuhan Mirna, yang juga tidak luput dari perhatian masyarakat. Berita ini semakin menarik, karena jalannya persidangan disiarkan langsung oleh beberapa televisi nasional.

Tiga peristiwa ini ibarat baterai yang memiliki dua kutub yaitu positif dan negatif. Namun  dua kutub itu bukan dalam arti yang sebenarnya. Hanya saja ingin digambarkan ada dua sisi yang masing-masing memiliki kualitas dan pengaruh besar dalam kehidupan kita sebagai bangsa dan umat manusia.

Bencana bandang yang sangat mengejutkan itu, menggerakkan banyak pihak untuk memberikan bantuan. Baik pejabat pemerintah maupun berbagai pihak pun mencerahkan perhatian mereka untuk para korban.

Selain mengupayakan perbaikan, terutama sekolah-sekolah dan membantu para pengungsi, pemerintah juga terus berupaya mencari  korban yang sampai kini belum ditemukan. Sampai-sampai fokus pencarian diperluas ke beragai tempat. Sejauh ini korban tewas bencana banjir bandang Garut sudah mencapai 30 orang dan ada 22 orang lainnya masih dicari.
Di tengah sibuknya berita bencana itu, dan sidang Mirna, ternyata muncul pemberitaan tentang pendaftaran para calon gubernur dan wakil gubernur untuk Pilkada di DKI Jakarta.  Langsung saja perhatian pun beralih ke sana. Kini persoalannya bukan pada pasangan Ahok-Djarot, tetapi masyarakat melihat ada kebingungan pada partai-partai lain yang ingin mengusung calon mereka. Walau pun akhirnya dua kubu yang ada maju dengan calon masing-masing.

Artinya kini masyarakat mulai memperhatikan dan memahami, betapa Pilkada ini merupakan pertistiwa yang tidak boleh dilewatkan. Kesuksesan Pilkada DKI, tampaknya memang menjadi ukuran dan contoh keberhasilan rakyat memilih pemimpin yang mampu membangun daerah mereka.

Tetapi kemeriahan pemberitaan terkait para calon gubernur dan wakil gubernur ini, mulai menggeser rasa kepedulian kita terhadap hal-hal lain. Riuhnya pemberitaan mengenai para calon itu, membawa kita kepada “permainan” politik yang sedang berjalan. Yang pasti kita semua selalu mengikut komentar, pendapat dan aneka kritikan menjelang Pilkada ini.

Kepedulian kita terhadap perpolitikan di negeri ini bisa dikatakan semakin tebal, tetapi kepedulian terhadap sesama “mungkin” sudah mulai tipis. Buktinya, kini tidak banyak lagi yang memperhatikan para korban bencana di Garut.

Kalau dulu, pasti semua ingat, di masa kampanye pilpres, bila ada suatu peristiwa yang bersifat nasional atau kemanusiaan, maka dengan cepat partai-partai turun tangan. Saling lomba memberikan bantuan. Sampai-sampai pernak-pernik berbau partai ada di mana-mana. Tetapi sekarang coba kita perhatikan, dalam bencana di Garut. Adakah partai-partai berbondong-bondong membantu? Adakah umbul-umbul atau pernak-pernik partai bertebaran di mana-mana sebagai bukti kepedulian terjadap korban bencana?

Rasa-rasanya, kepedulian ini harus dibangkitkan lagi. Jangan hanya kita peduli pada sebuah Pilkada yang mengusung calon pemimpin, dan terbuai oleh  ramainya percaturan munculnya para calon dengan kualitas dan kehebatan masing-masing.

Tetapi, kepedulian terhadap sesama kita, tidak kalah penting dari sebuah keramaian menjelang Pilkada di DKI atau bahkan di daerah lain. Para korban bencana di Garut atau daerah lain itu membutuhkan uluran tangan kita juga. Membutuhkan perhatian kita juga. Walau pun tidak besar, tetapi mari bersama-sama menunjukkan kasih dan rasa kebersamaan pada mereka.

Memang para korban bencana itu, tidak merengek-rengek, tetapi sepatutnya kita yang mampu menujukkan rasa iba. Mereka juga manusia biasa, seperti para calon pemimpin itu. Mereka membutuhkan dukungan, seperti para pemimpin itu. Karena itu, jangan hanya karena peristiwa pemilihan gubernur di DKI, yang berdampak nasional, peristiwa kemanusiaan seperti di Garut justru diabaikan begitu saja.

Karena itu, marilah kita melihat saudara-saudara kita yang ada di sana. Apa yang bisa kita berikan, dan sumbangkan: waktu, materi, non materi, maka berilah kepada mereka. Mereka adalah saudara-saudara kita yang juga memberikan sumbangan besar bagi pembangunan di negeri ini. Mereka juga bagian dari kehidupan berbangsa di negeri ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here