Jangan Salah Memilih

Jia Xiang – Kasus korupsi yang menimpa pejabat pemerintah di negeri ini tampaknya menjadi “tren” yang sedang populer. Tindak kejahatan ini tampaknya hampir terjadi di seluruh Indonesia, dan tidak tanggung-tanggung para petinggi daerah, mulai dari gubernur, bupati, sampai kepada walikota,  pun satu demi satu meringkuk di dalam penjara.

Mungkin kasus teranyar yang terkuak adalah keterlibatan Bupati Karanganyar dalam proyek subsidi perumahan Griya Lawu Asri (GLA) tahun 2007 -2008 senilai Rp 18,4 miliar. Bupati pun sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus itu. Dengan kasus ini, maka menurut data Kemendagri sudah 311 kepala daerah yang tersangkut masalah hukum.

Itu baru satu kasus hukum yang melibatkan pejabat daerah. Belum lagi bila kita bicara soal kasus lainnya. Yang pasti dari 311 kepala daerah  yang sudah terjerat  masalah hukum, maka dapat diperkirakan miliar rupiah atau bahkan lebih besar lagi negara dirugikan. Dari sisi jumlah individu, sudah pasti meningkat, sebab pada bulan Februari 2013 Mendagri juga menyebutkan bahwa ada 290 kepala daerah berstatus tersangka, terdakwa, dan terpidana.  Sekarang sudah menjadi 311.  Artinya jumlah kerugian negara pun meningkat.

Sebenarnya pemimpin yang korupsi adalah bukti pelaksana amanat negara yang tidak bermartabat. Pejabat ini dipastikan akan membuat banyak masalah.  Perjalanan keberhasilan, kesuksesan, dan kemakmuran negeri ini, atau daerah sekalipun salah satunya ditentukan oleh seorang pemimpin. Karena itu, saatnya sekarang masyarakat diharapkan lebih jeli, teliti, dan terutama mengenal seorang calon yang akan dipilihnya.
Diharapkan, masyarakat jangan pernah terbuai atau tertipu oleh kehebatan  pemimpin yang tenar hanya karena publikasi. Yang dikenal adalah ketenarannya, tetapi  tidak mengetahui kinerja dan  prestasinya. Dengan kata lain, masyarakat diharapkan dapat berpikir lebih dewasa lagi dalam memutuskan.

Artinya, tidak semua rakyat mengerti masalah pilih memilih,  sehingga rayuan dalam bentuk aneka publikasi, program elite politik, atau iming-iming dan janji-janji  ditelan begitu saja, tanpa proses seleksi. Kembali lagi, ini akibat dari kurangnya pengetahuan masyarakat terutama pengetahuan politik, apalagi kalau sikap kritis tidak ada, maka semua menjadi salah langkah.

Banyak hal yang menjadi penyebab masyarakat bersikap seperti itu. Misalnya, tingkat pendidikan yang rendah, sikap yang tak mempedulikan lingkungan sekitarnya, dan  terkendal oleh sarana informasi yang sepatutnya disediakan pemerintah, tetapi tidak terbangun dengan baik.  Kondisi seperti ini diperparah dengan janji surga para elite partai politik yang “cuap-cuap” ke mana saja mengenai tokoh idaman mereka.

Seharusnya mereka ikut membangun dulu kekuatan masyarakat melalui  berbagai informasi dan pendidikan politik, supaya tercipta suasana yang memungkinkan mereka mampu menetapkan sikap secara mandiri. Tapi tampaknya, kondisi seperi itu sulit diharapkan dilakukan oleh para petinggi partai, sebab semakin dewasa masyarakat ini, semakin sulit “jagoan” partai lolos jadi pemimpin daerah.

Sebaliknya, bila masyarakat semakin tidak tahu dan kenal tokoh yang dipilih, maka “calon” mereka akan lolos. Konsekuensinya, ya seperti sekarang, salah pilih, ujung-ujungnya banyak pemimpin yang meringkuk dalam penjara. Karena itu, janganlah kesalahan memilih seperti ini terulang kembali. Sudah saatnya masyarakat dewasa dan cermat dalam memilih pemimpin, baik tingkat daerah maupun nasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here