Jangan Sampai Kita “Dipermainkan”

Jumat (24/6/16) menteri Luar Negeri. Retno Marsudi mengumumkan bahwa ada tujuh ABK dari dua kapal berbendera Indonesia, disandera lagi oleh kelompok bersenjata di kawasan perairan Laut Sulu, Filipina Selatan.Peristiwa ini kembali menghentak seluruh warga Indonesia. Terkejut, begitulah mungkin sebagian orang di negeri ini oleh berita tersebut. Kita, yang hanya warga negara biasa saja, terkejut, apalagi keluarga ABK itu. Terkejut, takut, khawatir dan perasaan lainnya muncul, dan ingin mengetahui bagaimana keadaan mereka ?
Belum lama ini ABK kita juga disandera oleh kelompok bersenjata Abu Sayyaf. Tetapi beberapa lama kemudian mereka pun dibebaskan atas bantuan semua pihak, terutama pemerintah Indonesia.
Sebelum berita penyanderaan ini beredar, terjadi ketegangan pula di perairan Natuna yang menjadi bagian dari wilayah NKRI. Ketegangan dengan pemerintah Tiongkok itu, sontak menimbulkan reaksi yang sangat mengesankan. Presiden Joko Widodo pun bertandang di kapal perang milik Angkatan Laut TNI.
Ketegangan di perairan Natuna memang berawal dari ditangkapnya nelayan-nelayan negara tetangga terutama dari Tiongkok di laut kawasan Indonesia. Kemudian disusul peristiwa-peristiwa lain yang menimbulkan sedikit ketegangan diantara kedua negara.
Kedatangan presiden ini sebenarnya memberi kesan dan pesan tersendiri. Kesan yang muncul adalah jangan menganggu negara lain. Pesannya pun cukup jelas yaitu NKRI adalah wilayah kedaulatan yang tidak bisa diklaim begitu saja oleh pihak lain.
Kedua peristiwa itu memang terjadi di wilayah perairan perbatasan negeri ini. Artinya memang kawasan-kawasan di perbatasan itu menjadi wilayah yang rawan konflik dengan siapa saja. Kita harus waspada menghadapi semua ini. Kalau pun ada pihak yang bisa mendekati ke wilayah perbatasan kita, bukan tidak mungkin suatu saat mereka akan berani masuk ke wilayah kita, lebih jauh dan lebih dalam.
Dua peristiwa ini juga menunjukkan bahwa ada beberapa titik atau bagian yang lengah dari pandangan kita. Kelengahan inilah yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memetik manfaat tersendiri.
Misalnya penyanderaan oleh kelompok bersenjata di Filipina Selatan, yang konon ceritanya, pihak penyandera ini adalah sempalan dari Abu Sayyaf. Artinya ada beberapa orang yang bertindak di luar komando kelompok itu.
Di sini tampaknya mereka ingin memetik manfaat dari penyanderaan tersebut. Siapa tahu pemerintah Indonesia mau bernegosiasi memberi tebusan untuk membebaskan warganya. Dengan kata lain, kita harus waspada, jangan sampai menjadi “bulan-bulanan” kelompok bersenjata itu. Jangan sampai warga kita menjadi “mainan” mereka untuk mengeruk keuntungan.
Untuk itulah di sini kembali dituntut sikap tegas pemerintah. Tegas untuk membela rakyatnya dan tegas pula untuk menjaga keutuhan wilayanya. Kini ketegasan sikap pemerintah kembali diuji. Sekarang ini, saatnya untuk mau menyatakan sikap perang bukan hanya kepada penyusup wilayah Indonesia, tetapi perang pada perompak dan penculikan di wilayah perbatasan negeri kita.
Jalur diplomatik, dengan berbagai pihak di Filipina sudah pasti dilakukan. Sebab itulah jalan formal yang memang harus ditempuhl. Tetapi adakah opsi lain untuk memperlihatkan sikap tegas dan serius pemerintah ini dalam memerangi kelompok bersenjata, yang bisa seenaknya menculik dan menyandera WNI.
Kondisi seperti ini harus dihentikan. Kita bukan negara yang bisa begitu saja dipermainkan dengan mudah oleh kelompok-kelompok kecil bersenjata yang mencari makan dari aksi bersenjata mereka. Karena itu, kalau negara-negara di ASEAN ini sepakat untuk menjaga keamanan perairan regional, maka tingkatkan patroli bersama. Jangan hanya kesepakatan di atas meja saja, tetapi implimentasinya nol.
Kasus penyanderaan WNI sekarang ini membuktikan bahwa implementasi kesepakatan yang sudah pernah dicapai tidak pernah terwujud, alias lemah.
Jadi, jangan hanya “jago, ahli, atau mahir” di atas meja (perundingan) atau di atas kertas saja, tetapi harus ahli juga di lapangan. Artinya satu kata dan perbuatan. Itulah yang harus diwujudkan dalam memerangi kasus penyanderaan di kawasan perairan di mana pun, terutama di wilayah kita sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here