Jaringan Freddy Budiman Simpan Sabu di Pipa Besi

Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso menjelaskan pengungkapan jaringan Freddy Budiman yang menyimpan sabu dalam pipa besi. (Foto: Ist./W5)

JAKARTA, JIA XIANG – Sejumlah orang yang merupakan anggota jaringan narkotika terpidana mati Freddy Budiman dibekuk petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan Ditjen Bea dan Cukai. Penangkapan dilakukan saat BNN menggerebek sebuah rumah di kawasan Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (14/6/16). Dalam penggerebekan BNN berhasil menyita 9 buah pipa besi yang di dalamnya terdapat ± 40 kg sabu kristal.

Dari pengungkapan kasus tersebut, BNN mengamankan 5 (lima) orang tersangka, masing-masing berinisial HE, EN, ED, GN dan DD. Tersangka ED, GN dan DD diamankan petugas di lokasi kejadian, sementara HE dan istrinya, EN, diamankan di kediamannya di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

HE merupakan Mantan Napi Lapas Cipinang yang  saat ini berstatus bebas bersyarat.Seolah tak jera, di masa pembebasan bersyaratnya, HE kembali berulah.Dalam melakukan transaksi, HE menggunakan identitas EN untuk membuka rekening dan alamat tujuan pengiriman barang.

Dari hasil penyelidikan, kasus ini melibatkan Napi Lapas Cipinang berinisial AK yang diduga tergabung dalam jaringan Narkotika Freddy Budiman. HE mengenal AK semasa berada di dalam Lapas yang sama dan AK memiliki kendali penuh terhadap penyelundupan sabu tersebut.

Keterlibatan para tersangka dalam jaringan Narkotika tak dibayar dengan harga sedikit. Dari hasil penyelidikan, diketahui jaringan ini telah beberapa kali melakukan penyelundupan. Sebagai dedengkot, HE menerima upah Rp 50-150 juta per transaksi, sementara ED, GN dan DD mendapat upah masing-masing Rp 10 juta per transaksi.

Penggerebekan dipimpin langsung Kepala BNN, Budi Waseso (Buwas)  dan Dirjen Bea dan Cukai, Heru Prambudi.Buwas mengatakan, timnya bersama tim DJBC sudah lama melakukan penyidikan kasus ini dan melakukan penangkapan setelah cukup bukti.SementaraHeruPambudi mengatakan, pihaknya senantiasa melakukanan alias impor untuk mencegah masuknya barang haram itu ke Indonesia.

Hingga kini kasus tersebut masih dalam pengembangan. Atas perbuatannya para tersangka melanggar Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Pasal 114 ayat (2) danPasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup.[JX/W5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here