Jeritan Warga Jakarta

Jia Xiang – Jakarta bak kubangan besar disebabkan banjir di mana-mana. Ketinggian air hingga tiga meter sekaligus menenggelamkan rumah-rumah penduduk Ibukota, tanggul-tanggul jebol.

Korban harta dan jiwa pun tak bisa dihidari. Belum lagi berbagai penyakit yang menyerang belasan ribu pengungsi. Roda ekonomi lumpuh lantaran akses jalan terputus dan rusaknya infrastruktur. Diperkirakan kerugian materiil mencapai triliunan rupiah sebab banjir yang “menyerang” Jakarta sejak Kamis (17/1/13) ini. Mata duniapun terbelalak melihat istana kepresidenan terendam. Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, banjir kali ini dipengaruhi fenomena unik periodik  Monsoon, berupa siklus perubahan angin yang ekstrem setiap tiga bulanan. Bagaimana Jakarta? Masih layakkah sebagai ibukota negara? Mengapa Jakarta? Apakah engkau tuli sehingga tidak bisa mendengar jeritan pilu wargamu? Banyak wilayah Jakarta yang tergenang banjir. Hal ini hanya bisa membuat banyak orang mengelus  dada. Masalah  yang menahun ini, menjadi  cerita yang berulang.  Wilayah yang tergenang semakin lama semakin meluas,  setiap banjir datang ada wilayah baru yang tergenang dan tenggelam. Yang menjadi keprihatinan adalah jawaban para petinggi pusat dan daerah selalu sama. Kita akan berupaya menormalisasi sungai, mengeruk dan membersihkan saluran. Tetapi, kenyataan buruk pun berulang. Hujan lebat, banjir, mengungsi, penyakit dan penyaluran bantuan. Apa langkah konkrit yang diharapkan ke depan? Tampaknya kita jangan terlalu berharap banyak pada pemerintah, sebab kebijakan soal mengatasi banjir tidak pernah ampuh. Yang paling mudah, namun bisa juga tersulit, adalah memindahkan warga yang tinggal di bantaran Kali Ciliwung. Ini saja tidak tuntas. Nah, begitu volume air Kali Ciliwung besar datang dari Bogor, otomatis Kali Ciliwung pun meluap. Warga itu pun terendam. Hal ini diperparah dengan pemeliharaan saluran (got) yang buruk, ditambah aksi seenaknya masyarakat yang membuang sampah ke kali dan got. Hal ini memang harus menjadi pekerjaan rumah. Tetapi pekerjaan rumah yang digarap sangat serius. Jakarta cerminan pemerintah pusat. Jadi kalau kerja aparat yang hanya memenuhi program tanpa pandang kualitas dan dampak. Ya beginilah jadinya. Banjir lagi, banjir lagi. Tergenang lagi, tergenang lagi. Bagi Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi), banjir identik dengan kerja ekstra keras. Butuh terobosan konkret. Saatnya pula Jokowi memantau sekaligus menertibkan kerja aparatnya. Mengatasi banjir di Jakarta, memerlukan kesepahaman fokus antara pusat dan DKI. Pemerintah pusat pun harus mempercayakan sepenuhnya penangan banjir ini di tangan DKI. Pusat jangan mengintervensi, dukung saja dari finansial dan kebijakan, biarkan aparat Pemda DKI bekerja. Awasi, bila menyimpang “sikat”, supaya rakyat jangan dirugikan. [Iman Sjahputra]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here