Jumlah Pria Membujang Lebih Tinggi Dibanding Wanita

(Foto: Forbes.com)

BEIJING, JIA XIANG – Sebuah survei yang dilakukan Biro Statistik Kota Beijing cukup menarik perhatian warga setempat. Hasil survei yang dilakukan pada akhir Februari lalu menyebutkan bahwa jumlah penduduk pria lebih besar 20 persen dibanding perempuan. Bukan hanya itu, ternyata jumlah penduduk yang tidak atau belum menikah justru menurun.
Menurut data tentang status perkawinan dan angka kelahiran yang dikeluarkan oleh Biro Statistik Kota Beijing dan Biro Statistik Nasional Tiongkok Kantor Survei Beijing pada Februari lalu, dalam rencana pembangunan lima tahun ke-12 Tiongkok (2011-2015), ada peningkatan jumlah penduduk yang berpasangan, namun terjadi penurunan populasi yang belum menikah dan naiknya jumlah mereka yang bercerai.
Sebagai perbandingan, populasi wanita yang bercerai lebih tinggi. Bahkan wanita bercerai dan tidak menikah lagi juga tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat kontemporer sekarang ini lebih sulit bagi perempuan yang bercerai untuk menikah lagi.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa tahun lalu masih tercatat lebih banyak pria daripada wanita hidup “single atau membujang” hingga dewasa. Kondisi ini mencerminkan bahwa makin tinggi jumlah laki-laki yang menunda pernikahan mereka. Paling tidak, angka itu memperlihatkan bahwa 55 persen pria yang menunda pernikahan mereka dibanding perempuan yang hanya tercatat 45 persen.
Namun, tren baru adalah bahwa kesenjangan antara laki-laki dan perempuan yang belum menikah makin kecil. Rasio pria terhadap wanita yang sudah berada di atas usia dewasa dan belum menikah kira-kira 1,2 saja, sedangkan angka ini pada lima tahun lalu tercatat 1,5.
Selain itu, telah terjadi kesenjangan yang lebih besar bagi pria dan wanita yang masih membujang dalam lingkungan hidup dan pendidikan. Menurut data lembaga itu, sekitar 90 persen dari populasi wanita yang belum menikah, tinggal di kota dan kota-kota sekitarnya. Dari jumlah itu sekitar 80 persennya adalah sarjana atau lebih tinggi. Sebaliknya, di daerah pedesaan jumlah laki-laki belum menikah cukup banyak, sekitar setengah dari laki-laki itu hanya lulusan sekolah menengah atau kurang, bahkan ada yang putus sekolah.
Biro Statistik itu juga menunjukkan terjadinya penurunan angka kelahiran di Beijing, dan mencapai rekor terendah dalam lima tahun terakhir. Menurut analisis, sejumlah orang Tiongkok tidak mau memiliki anak terkait tahun 2015 yang kurang menguntungkan.
Bersatunya kondisi tenang dan lemah lembut, dengan kehidupan yang keras bagi warga Beijing yang lahir di tahun 2015, membuat banyak ibu untuk tidak berkeinginan melahirkan di tahun itu. Namun, dengan pengenalan kebijakan dua-anak ditambah dengan kesediaan orang untuk melahirkan di Tahun Monyet, maka diperkirakan akan ada kenaikan substansial dalam populasi yang baru lahir. [JX/Beijing Morning Post /Women of China/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here