Karya yang Melegenda di Era Dinasti Ming dan Qing

JAKARTA, JIA XIANG – Dinasti Ming dan Qing terkenal dengan novel klasiknya. Kisah Tiga Negara (Sānguó Yǎnyì), Batas Air (Shuǐhǔ Zhuàn), Perjalanan ke Barat (Xīyóujì) dan Impian Paviliun Merah (Hónglóumèng) serta Jinpingmei (Jīn Píng Méi) yang menceritakan tentang petualangan Hsimen bersama enam istrinya. Kelima karya sastra terkenal ini telah difilmkan dan begitu terkenal di dalam dan di luar negeri.Novel Kisah Tiga Negara (Sānguó Yǎnyì) karya Luo Guanzhong (1330-1400 M.) dianggap sebagai novel sejarah terlengkap pertama dari Tiongkok. Luo Guanzhong hidup pada zaman yang mencakup mulai dari akhir Dinasti Yuan sampai dengan awal Dinasti Ming. Dalam novelnya, dia menceritakan tentang pertempuran antara tiga kerajaan Wei, Shu dan Wu, yang berlangsung selama 100 tahun (184 s/d 280 sesudah Masehi).
Luo Guanzhong menggunakan banyak nama tokoh yang realistis, seperti Zhuge Liang penasehat militer yang bijaksana dan imajinatif, perdana menteri kerajaan Shu, Cao Cao, yang licik, dan pendiri kerajaan Wei yang selalu curiga, Guan Yu, Jenderal pemberani dan setia, Jenderal Zhang Fei, pemberani dan sembrono, dan beberapa nama lagi. Mereka digambarkan sedemikian memikat, sehingga pembaca sangat mencintainya.
Novel Batas Air (Shuǐhǔ Zhuàn; water margin) dianggap sebagai pemaparan atau penggambaran genial tentang pemberontakan petani waktu itu. Penulisnya bernama Shi Nai’an (1296-1370 M.) dan hidup di persimpangan antara Dinasti Yuan dengan Dinasti Ming. Berdasarkan peristiwa sejarah selama Dinasti Song Utara di Liangshan, sekarang Shandong, diceritakan seluruh kejadian pemberontakan petani di bawah kepemimpinan Songjiang.
Dikatakan “Penguasa telah mendesak rakyat untuk bangkit melawan”. Novel yang mempunyai banyak tokoh ini memiliki 108 pahlawan yang berjuang penuh semangat melawan penindasan. Salah satu episodenya,  “Wu Song mengalahkan harimau” atau “Lu Zhishen mencabut pohon Yangliu (willow)” yang sampai hari ini masih sering dibaca.
Perjalanan ke Barat (Xīyóujì) karya Wu Cheng’en berasal selama Dinasti Ming (1368-1644 M.) dan dianggap novel mitos yang paling sukses dalam sejarah sastra Tiongkok. Novel ini menceritakan kisah biksu Xuanzang, yang di abad ketujuh sesudah Masehi membawa kitab suci Buddha dari India ke Tiongkok.
Novel ini, seperti judulnya, menggambarkan perjalanan ziarah seorang Biksu Tang bersama dengan tiga muridnya (Sun Wukong, Zhu Bajie dan Sha Heshang) ke barat, untuk mengambil sutera Buddha. Sepanjang jalan mereka mengalami 81 situasi sulit dan berbahaya, mengalahkan jin dan hantu sampai akhirnya tiba di tempat tujuan. Sosok yang paling menarik adalah si Raja Kera Sun Wukong. Dia cerdas dan berani, tidak takut kepada para dewa dan berkelahi dengan kesaktiannya yang luar biasa melawan semua jin dan hantu, yang akhirnya dikalahkan atau dibunuhnya. Ini adalah novel yang penuh fantasi dan menikmati popularitas besar di Tiongkok.
Impian Paviliun Merah (Hónglóumèng) karya Cao Xueqin (1715-1764 M.), penulis di era Dinasti Qing, adalah sebuah karya dari keahlian tertinggi. Menceritakan kisah cinta tragis Jia Baoyu dan Lin Daiyu dan kebangkitan serta kehancuran keluarga pejabat tinggi aristokrat. Semua tokoh seperti Wang Xifeng, Xue Baochai, Qingwen digambarkan dengan alur cerita yang menarik dan menggunakan bahasa yang elegan, sehingga dianggap sebagai puncak novel klasik Tiongkok dan juga menempati posisi penting dalam sejarah sastra di dunia.
Jinpingmei (Jīn Píng Méi) – adalah sebuah karya sastra terkenal dari Dinasti Míng. Kevulgaran alur ceritanya menyebabkan novel ini dianggap sebagai novel erotis dan tidak diakui sebagai novel bermutu, namun seiring perkembangan dinamis masyarakat. Novel ini kemudian mendapatkan statusnya sebagai salah satu karya sastra terbaik Tiongkok. Judul buku Jinpingmei yang bisa diartikan sebagai “Bunga Prem dalam Jambangan emas” diambil dari tiga nama wanita tokoh sentral: Pan Jinlian (Teratai Emas), Li Ping’er (Jambangan kecil), dan Pang Chunmei (Bunga Prem di musim semi). Merujuk pada Pan Jinlian sering kali judul itu diterjermahkan hanya dengan “Teratai Emas”. Nama pengarangnya masih diperdebatkan; sering dikaitkan dengan Lanling Xiaoxiao Sheng.
Novel ini menceritakan kehidupan dan rumah tangga seorang pemilik apotek dan pedagang sutera kaya bernama Hsimen di Provinsi Shāndōng. Alur cerita utama adalah petualangan erotisnya, yang disamping memiliki 6 orang istri resmi, juga masih mempunyai banyak skandal dengan perempuan lain dan konflik yang terjadi antara perempuan yang bersangkutan. Juga diuraikan dengan sangat teliti tentang kehidupan sehari-hari mengenai: pakaian, makanan, praktek-praktek seksual, kebiasaan pemakaman dan lain-lain, tanpa diperhalus atau bahkan dihilangkan. Sampai saat ini, Jinpingmei adalah salah satu sumber budaya sosial yang sangat penting untuk akhir periode Míng. [JX/Tionghoa.info/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here