Keberanian Bicara Jujur

Oleh: Iman Sjahputra

Masih segar di ingatan kita pada minggu lalu dalam sidang perdana kasus korupsi e-KTP atau KTP Elektronik (Katel). Dalam sidang itu Jaksa Penuntut Umum KPK membacakan sejumlah nama diikuti dengan jumlah uang yang dibagikan ke nama-nama itu.

Tanpa harus menyebut nama-nama itu, yang masih segar diingatan kita juga bahwa mereka yang diduga terlibat itu secara tidak langsung merepresentasikan lembaga di mana mereka bernaung. Mulai dari politisi, anggota partai, mantan anggota DPR, karyawan kementerian, sampai kepada sejumlah pihak swasta dan orang-orang yang bekerja di BUMN.

Namun jangan lupa ada nama-nama yang sebelum sidang Katel itu juga beredar. Mereka ini diberbagai media juga diberitakan, yang tentunya orang pun berpikir bahwa mereka diduga terlibat dalam kasus korupsi yang sifatnya “rombongan” itu.

Yang menarik dari pemberitaan sebelum sidang perdana Katel itu, beredar nama Ketua KPK, Agus Raharjo. Dia diduga menerima sejumlah uang terkait kasus ini. Namun lagi-lagi, seperti para pejabat lainnya yang diduga terlibat, Agus pun membantah. Bahkan dalam bantahannya dia menjelaskan tidak pernah melobi siapapun, termasuk tidak pernah mengajukan konsorsium tertentu untuk ikut proyek pengadaan Katel.

Orang pun akan bertanya, kok bisa seseorang yang ramai dibicarakan terlibat kasus Katel, kemudian menjabat menjadi Ketua KPK? Bagaimana bisa seperti itu?  Karena itu, pihak-pihak yang disebutkan Jaksa itu, termasuk Ketua KPK (walau pun tidak masuk daftar yang disebutkan Jaksa) membunyikan pembelaan diri yang senada. Tidak tahu, tidak pernah, dan tidak menerima apa pun.  Sebenarnya jawaban dan bantahan-bantahan ini adalah bahasa standar yang digunakan untuk menyangkal satu perbuatan atau pelanggaran, yang memang harus dibuktikan kebenarannya di meja pengadilan.

Yang pasti Jaksa Penuntut Umum KPK mengungkapkan sedikitnya 103 orang kecipratan uang korupsi Katel tersebut.  Mereka yang dituduh kecipratan uang itu, harus pula dengan berani membuktikan diri kalau mereka bersih. Apabila disebutkan nama-nama itu secara beramai-ramai, maka harus dibuktikan juga ketidakterlibatan itu secara beramai-ramai melalui proses di pengadilan.

Keberanian membuktikan kebenaran itu, harus menjadi landasan dalam penegakkan hukum.  Artinya, tuduhan lewat pengadilan harus pula dijawab melalui pengadilan juga. Sekarang sudah bukan saatnya lagi membantah, mematahkan tuduhan atau apa pun namanya melalui media secara terbuka.

Yang tidak kalah pentingnya nama-nama ini harus membuktikan pula bahwa mereka tidak terlibat dalam berbagai proses politik dalam menentukan proyek Katel dan kepentingan proses-proses lainnya.

Karena itu, kalau dikatakan Katel ini sebuah korupsi “bergerombol”, maka secara tidak langsung ada sebuah kesepakatan yang disetujui tanpa harus menyepakatinya secara formal. Artinya semua sama-sama tahu, hanya saja masing-masing memiliki cara dan pendekatan sendiri-sendiri untuk mengatakan ya..saya sepakat dengan Anda dalam proyek Katel.

Kesepakatan tersamar inilah yang menjadi sebuah ancaman, dalam setiap penentuan keputusan politik terhadap kebijakan yang akan dikeluarkan sebuah lembaga. Rupanya kesekapatan tersamar ini, sudah membudaya dan semua pun sudah paham. Dalam pelaksanaannya sudah ada pembagian tugas yang secara otomatis bergerak, walau hanya dengan sedikit perintah atau “input”

Jadi, budaya kesepakatan tersamar ini harus dihapuskan. Bagaimana? Pihak luar hanya bisa mengusulkan pemikiran, yang belum tentu diterima oleh pihak-pihak tertentu. Tetapi yang lebih pasti adalah mereka-mereka yang diduga terlibat dalam kasus Katel ini. Bagaimana menghapusnya?

Ya..mungkin hati nurani yang harus berbicara. Berbicara dari hati nurani tampaknya berat, sebab konsekuensinya  pada banyak hal, bukan hanya mempertaruhkan jabatan, nama baik (secara pribadi dan keluarga), nama partai, maupun organisasi lainnya.

Tetapi itulah satu-satunya cara untuk membuktikan kebenaran itu. Sekali lagi berbicara benar dengan hati nurani, bukan di media, tetapi di pengadilan. Sebab hanya melalui pengadilan itu, maka kita semua juga seperti apa manusia yang berbicara itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here