Kebiri dan Pola Pikir

Oleh: Iman Sjahputra

Beberapa waktu belakangan ini, muncul berbagai berita tentang kejahatan seksual terhadap anak. Sebut saja kasus yang begitu menyita perhatian warga negeri ini yaitu kematian Yuyun, gadis berumur 14 tahun, di Bengkulu.

Dia tewas dan jasadnya juga ditemukan dalam kondisi menyedihkan. Dia diperkosa, disiksa, dianiya, dicekik lalu dibunuh oleh 14 laki-laki. Tujuh dari 14 pelaku  itu berusia di bawah 18 tahun dan ada satu sekolah dengan Yuyun.

Berita ini sungguh memprihatinkan banyak orang. Namun tentunya ada serangkaian peristiwa lain yang juga memprihatinkan banyak orangtua. Akhir tahun Komnas Perlindungan Anak Indonesia, merilis data yang menyebutkan selama lima tahun terakhir, tercatat sekitar 21,7  juta aduan pelanggaran hak anak tersebar di 33 provinsi dan 202 kabupaten/kota.

Dari catatan Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) itu, ada 58 persen di antaranya adalah kejahatan seksual. Laporan KPAI juga menyebutkan tahun 2014 ada 3.339 kasus kejahatan terhadap anak, pelecehan seksual mencapai 52 persen. Sementara pada 2013 dari 2.700 kasus kriminal yang melibatkan anak di bawah umur, 42 persen merupakan kasus pelecehan seksual.

Sementara tahun 2015 KPAI menunjukkan, dari 1.726 kasus pelecehan seksual yang terjadi, sekitar 58 persennya dialami anak-anak. Artinya, ada sekitar 1.000 kasus pelecehan seksual seperti sodomi, pemerkosaan, dan incest, serta lainnya terkait kekerasan fisik dan penelantaran.
Di tengah kericuhan soal kekhawatiran banyak pihak tentang kejahatan ini, terutama yang “memangsa”  remaja dan anak-anak, munculah perdebatan tentang hukuman kebiri bagi para pelaku kejahatan itu. Kenyataannya, apa yang dibuat negara selama ini untuk melindungi warganya? Yang ada dari data itu justru kasusnya semakin beragam, dan selalu berulang.  Dengan kata lain, apa yang diperbuat para penegak hukum? Bukankah kejahatan terhadap anak di bawah umur akan mengancam masa depan bangsa ini juga? Apakah bangsa ini akan menjadi bangsa yang mendendam, akibat tidak pernah tuntasnya kasus-kasus kejahatan terjadap anak?

Anak-anak ini adalah masa depan bangsa. Salah mengasuh anak sejak dini, maka mereka akan tumbuh dan berkembang  ke arah yang salah. Ujung-ujungnya adalah negara ini akan dianggap gagal menciptakan manusia yang berkualitas di masa depan. Memang jumlah korban dan pelaku dibanding dengan populasi bangsa ini, tidak seberapa. Tetapi dampak sosial yang timbul di masa depan,  yang justru bisa menciptakan manusia-manusia Indonesia yang tidak berkepribadian.

Nah di tengah “panasnya” persoalan ini muncul wacana hukuman kebiri. Lalu pertanyaannya, apakah semudah itu, persoalan akan selesai. Setiap ada tindak kekerasan seksual pada anak, lalu pelaku dikebiri. Lalu bagaimana nasib anak-anak yang menjadi korban. Apakah sudah terlindungi oleh UU? Apakah selanjutnya negara mampu melindungi mereka?

Yang harus dibenahi tampaknya bukan sekadar kebiri atau hukuman setimpal, tetapi harus ada perubahan dalam cara berpikir, pola pikir, semua pihak. Artinya, bisa saja tindak kekerasan seksual itu terjadi lagi, walaupun pelaku itu sudah dikebiri. Sebab yang diselesaikan bukan pada akar persoalannya, tetapi hanya ranting atau dahannya saja.

Karena itu yang menjadi pekerjaan rumah, mengubah pola pikir manusia Indonesia itu bukan pekerjaan mudah. Ini pekerjaan yang harus simultan dan menyeluruh. Bukan hanya dimulai dari rumah, lalu di tingkat lingkungan RT/RW,  terus hingga ke jenjang provinsi, tetapi harus dibarengi juga  di tingkat sekolah, terus sampai ke perguruan tinggi dengan materi pendidikan moral yang sepadan dengan kondisi negara kita. Semua pihak, semua bidang terlibat, tidak ada kecuali.

Percuma pelaku kejahatan dijatuhi hukuman berat, ada unsur jera, tapi cara berpikir dan perilaku tidak berubah. Ujung-ujungnya tindak kriminal itu berulang lagi.

Jadi pola pikir atau cara pandang para pelaku yang juga harus diubah.  Dari mana dimulai paling tidak dari jenjang pendidikan di sekolah, namun yang lebih tepat lagi dari rumah masing-masing.  Pemerintah harus menaungi ini semua dengan didukung kebijakan dan berbagai program membenahi manusia Indonesia seutuhnya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here