Kedai Kopi Apek yang Tanpa Nama

MEDAN, JIA XIANG – Tidak lazim memang bila ada usaha sebut saja kedai, tapi tanpa nama atau merek. Sebenarnya sebuah fungsi  merek adalah memberikan suatu identitas pada suatu  entitas usaha itu.

Tapi beda dengan sebuah kedai kopi di Kota Medan, Sumatera Utara.  Umur kedai kopi ini, telah ratusan tahun,  setua usia bangunan yang ditempatinya.  Bangunan tua ini yang hampir seabad lebih dipakai untuk  warung kopi.

Boleh jadi kedai kopi ini telah dikelola secara turun-menurun. Hampir tiga  generasi,  tutur pedagang keturunan  India yang  juga  menjual roti cane dan martabak gulai kambing di kedai kopi ini. Menurut  pedagang itu, dia  telah bercokol di sini selama 43 tahun.

Awalnya warung kopi ini dikelola  oleh seorang  Apek, nama panggilan buat pemilik kedai yang telah berusia lanjut.  Kedai ini pun tidak punya merek.  Pengunjung banyak yang datang hanya menyerupi kopi yang  dihidangkan oleh Apek. Memang  kalau soal cita rasa, kopi yang diracik Apek sangat berbeda. Kepiawaan Apek dalam meramu kopi  pun  membuat pengunjung tidak hanya datang dari warga Medan saja, tetapi juga dari luar negeri, umumnya mereka  pernah berdinas di Kota Medan.

Walaupun kedai kopi ini tidak bermerek, tapi warga tahu jika ditanya di mana kedai kopi di Pasar Hindu, yang terkenal itu apa?  Jawaban pasti kedai kopi Apek. Ketenaran kopi Apek juga membuat harga sedikit mahal.  Harga secangkir  kopi tradisional yang biasa di warung kopi umum biasanya Rp. 8.000 sampai dengan Rp 10.000,- di tempat Apek diminum secangkir kopi seharga Rp. 20.000. Mahal juga untuk secangkir kopi ukuran kedai atau warungan, tapi pengunjung yang datang ternyata silih berganti dan pasti ramai.

Kini kedai kopi Apek ini dikelola oleh cucunya, karena Apek telah tiada. Tapi nama kedai kopi Apek tetap membahana. [JX/Iman Sjahputra]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here