Kenaikan Permukaan Air Laut di Tiongkok Lebih Tinggi Dibanding di Tingkat Global

BEIJING – Kenaikan rata-rata tahunan permukaan air laut di Tiongkok tahun 1980-2015 mencapai alah 3 milimeter. Ternyata angka ini lebih tinggi dibanding kenaikan rata-rata global, demikian sebuah laporan yang dirilis oleh Badan Kelautan Negara, awal pekan ini.
Bila dilihat data badan itu, kenaikan permukaan air laut di negara itu paling cepat selama 30 tahun terakhir terjadi di dekade antara tahun 2006 dan 2015. Angka kenaikan di era tersebut mencapai 32 milimeter dan 66 milimeter, dan ternyata angka itu paling tinggi bila dibandingkan dengan kenaikan permukaan air laut di era 1996-2005 dan 1986-1995, tulis laporan tersebut.
Laporan tersebut menyatakan bahwa ekspansi termal air laut dan mencairnya gletser dan lapisan es di darat terjadi akibat pemanasan global yang berkontribusi pada semakin cepatnya kenaikan permukaan air laut global.
Tiongkok sebenarnya sudah melihat suhu udara dan air laut yang meningkat, akibat perubahan iklim, bersama dengan tekanan udara rendah di wilayah pesisir. Kondisi tersebut mengakibatkan naiknya permukaan air laut, menurut laporan tersebut.
Sementara itu statistik data badan kelautan tersebut juga menunjukkan bahwa permukaan laut di Tiongkok turun selama pola cuaca El Nino. Permukaan laut pada tahun 2015 turun sebesar 21 milimeter dibanding tahun 2014, karena El Nino begitu kuat, sehingga mempengaruhi wilayah khatulistiwa bagian tengah dan timur di Samudera Pasifik.
Laporan ini juga menyarankan agar pemerintah melihat kenaikan permukaan air laut ini menjadi sebuah pertimbangan dalam merencanakan dan memastikan upaya penyelamatan dan pencegahan bencana yang efektif di kota-kota pesisir.
Sementara itu ada laporan lain yang dirilis oleh pemerintah mengungkapkan bahwa bencana samudera di Tiongkok pada tahun 2015 menyebabkan kerugian ekonomi langsung lebih dari 7,2 miliar yuan dan mengakibatkan tewasnya 30 orang. Kondisi itu ternyata, menurut catatan data badan kelautan tersebut, jauh lebih rendah dibanding beberapa dekade terakhir.
Laporan itu juga mencatat bahwa gelombang badai menyebabkan kerugian ekonomi langsung sebesar 99,8 persen. Bahkan 77 persen kematian disebabkan oleh gelombang laut. Pada 2015, provinsi pesisir Zhejiang, Fujian dan Guangdong paling menderita selama bencana samudera, dengan kerugian ekonomi langsung mereka mencapai 97 persen. [JX/Xinhua/chinadaily/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here