Kepala Bappenas Imbau Warga Jakarta Tak Lagi Andalkan Kendaraan Pribadi

Jalur MRT. (Foto: Ist./W5)

JAKARTA, JIA XIANG – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro berharap warga Jakarta tak lagi mengandalkan kendaraan pribadi dan beralih memanfaatkan Masss Rapid Transit (MRT) bila kelak telah bisa beroperasi. Pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) merupakan titik awal dari upaya pemerintah yang secara serius mengurai dan mengurangi kemacetan di Jakarta sebagai salah satu kota termacet di dunia.

“Sebenarnya solusi untuk mengatasi kemacetan itu banyak alternatifnya. Namun yang paling penting adalah perbaikan sistem transportasi massal. Pembangunan MRT menjadi bagian dari upaya memperbaiki sistem transportasi massal,” ujar Bambang saat meninjau perkembangan proyek pembangunan MRT Fase I (satu) di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Senin (20/3/17).

Dengan demikian, lanjutnya, pembangunan MRT di Jakarta bukan untuk gagah-gagahan ataupun sekedar membuat Jakarta sejajar dengan kota-kota besar lainnya di dunia. Tapi, bertujuan untuk dapat mengurangi kemacetan dan dan menjadikan aktivitas warga sehari-hari lebih produktif dan lebih efisien.

Di sebagian besar kota-kota di dunia, paparnya, pengoperasian MRT termasuk pembangunannya, memang harus mendapat dukungan penuh pemerintah. Artinya, pemerintah selalu mengambil porsi terbesar untuk mengalokasikan anggaran, apakah itu dari anggaran internal maupun mengusahakannya dari pinjaman-pinjaman.

Kelak, jelasnya, keberadaan MRT bukan sekadar menjadi alat transportasi, namun juga sarana pendorong pengembangan dan aktivitas ekonomi di Jakarta lantaran nanti di stasiun-stasiun MRT bisa dikembangkan sebagai pusat bisnis dan perbelanjaan.

Menurut Bambang, salah satu best practice pengelolaan MRT yang bisa dijadikan model adalah Hong Kong. Pengelolaan dan pengembangan MRT di sana bisa dibiayai oleh kegiatan MRT sendiri dengan cara menggandeng para pemilik properti di seputar rel melalui konsep transit oriented development (TOD).

Setiap stasiun MRT di Hong Kong, sepengetahuannya, tidak hanya mengakomodasi pusat perbelanjaan, tapi juga dibangun properti seperti perumahan, baik perumahan kelas menengah, kelas atas, maupun bentuk-bentuk properti seperti low cost housing yang bisa mendatangkan pemasukan. Dari pemasukan itulah MRT Hong Kong membiayai kegiatan operasionalnya sendiri.

“Bahkan laporan akhir yang saya dengar, mereka mendapatkan untung dan levelnya sudah triliunan rupiah,” ujar Bambang.

Kisah sukses skema pengelolaan MRT dengan konsep TOD yang dikembangkan di Hong Kong, menurut dia, patut dipertimbangkan sebagai model. “Karena kita juga ingin nanti ada dampak ekonomi dari keberadaan MRT. Jadi MRT bukan hanya sekadar alat transportasi tapi juga sebagai sarana mendorong perekonomian Jakarta untuk lebih meningkat lagi,” tutur Bambang. [JX/Win]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here