Kerja, Kerja, dan Kerja Antisipasi Banjir

Jia Xiang – Hujan yang mengguyur Ibukota beberapa hari ini sudah mulai dirasakan di beberapa kawasan. Walau pun belum merata, tetapi hujan yang turun sudah memperlihatkan gejala semakin rutin terjadi. Wajar saja, sebab seharusnya bulan Oktober sudah turun hujan untuk negeri ini.

Hujan yang turun belakangan ini, dampaknya sudah mulai dirasakan oleh penduduk Jakarta. Kemacetan, lalu lintas tersendat, dan di beberapa wilayah sudah muncul genangan air. Yang dikhawatirkan bila curah hujan sudah mulai besar, bukan lagi genangan yang terlihat, tetapi kawasan langganan banjir pun harus bersiap-siap menerima datangnya air dalam jumlah besar pula.

Menghadapi kondisi itu, orang nomor satu di pemerintahan DKI Jakarta, Gubernur Joko Widodo pun segera mengumpulkan jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk membahas antisipasi banjir. Gubernur yang suka berkata “Kerja, Kerja, dan kerja” ini menyatakan setelah hujan turun, pihaknya mengevaluasi kondisi wilayah Jakarta secara keseluruhan.

Diharapkan hasil rapat itu menghasilkan solusi dan memadukan rencana dengan program Pemda DKI Jakarta menghadapi musim hujan seperti penyediaan pompa air, membuat sumur resapan, dan pengerukan saluran-saluran air, dan sungai, serta pengerukan 12 waduk.  Artinya kegiatan-kegiatan itu sudah harus dilakukan sesegera mungkin. Istilah orang Jakarta, semua itu harus “ngebut”.

Sudah tidak ada lagi toleransi untuk menunda atau mengimbau warga supaya waspada, semua sudah harus dikerjakan cepat. Semakin lambat kegiatan-kegiatan itu dilaksanakan, maka semakin banyak pula titik-titik rawan banjir baru yang akan muncul.

Hingga akhir tahun ini, DKI akan memperbaiki 160 saluran, sisanya tahun depan. Sementara itu saluran tersebut seluruhnya ada  884 unit di kawasan perumahan di Jakarta. Saluran kecil itu fungsinya mengalirkan air dari kawasan perumahan ke saluran yang lebih besar, supaya tidak terjadi genangan. Ada beberapa tempat yang sudah ditetapkan antara lain di kawasan Pedongkelan, Pondok Bambu, Utan Kayu, Kali Sari   Jakarta Timur, serta Kelapa Gading, dan Pluit di Jakarta Utara.

Selain itu ada 18 jaringan sungai sedang yang juga dikeruk.  Jakarta saat ini memiliki 39 sistem jaringan submakro atau sungai sedang dengan 125 anak sungai. Secara keseluruhan ada  sekitar 300 kilometer jaringan submakro yang terbagi dalam aliran timur (145 km), barat (44 km), dan  tengah (115 km).

Semua jaringan itu terhubung dengan 13 sungai besar Kali Angke, Mookervart, Pesanggrahan, Krukut, Grogol, Baru Barat, Ciliwung, Kali Baru Timur, Cipinang, Sunter, Buaran, Jati Kramat, dan Cakung.
Melihat betapa besar dan luasnya jaringan sungai di Jakarta, tidak mungkin pemerintah DKI menyelesaikan semua program tahun 2013 ini yang tinggal dua bulan lagi. Dibutuhkan kerjasama dan koordinasi program terpadu dengan pemerintah pusat.

Pemerintah DKI Jakarta harus mendapat jaminan dari pusat soal pengerukan sungai-sungai besar itu. Sementara pak gubernur DKI harus mendesak para pelaksana di lapangan supaya  saluran dan sungai kecil dikeruk sesuai dengan target yang ditetapkan. Tetapi yang penting adalah terus mengimbau warga Jakarta supaya tidak lagi membuang sampah ke sungai.

Tampaknya pak gubernur tidak bisa tinggal diam. Dia harus terus blusukan, walau pun hujan, ia tetap harus turun ke lapangan. Di lapangan pak gubernur akan tahu kondisi yang sebenarnya, juga bisa memahami seperti apa keseriusan aparatnya melaksanakan tugas dan tanggungjawab masing-masing dalam menanggulangi banjir. Ayo….kerja, kerja, dan kerja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here