Kodrat Keberagaman

Oleh: Iman Sjahputra

Peringatan hari lahir Pancasila, Kamis (1/6/17) pagi, digelar di halaman Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri. Ada sedikit hal yang cukup menggugah yaitu mulai dari Presiden Joko Widodo sampai para menteri, semua menggunakan pakaian daerah di Tanah Air.

Sebenarnya apa sih esensi menggunakan pakaian adat daerah?  Jawabannya, itulah Indonesia. Miniatur Indonesia, walau pun saat acara pagi itu, tidak mewakili semua daerah, tetapi cukup untuk memperlihatkan keanekaragaman, unik, atau lebih enak disebut “berwarnanya” Indonesia.

Harus diakui bahwa keanekaragaman itu, memperlihatkan juga kayanya budaya bangsa ini, kayanya sumber daya alam negeri kita, dan betapa makmurnya alam Indonesia. Tetapi sayangnya, “kekayaan” itu sering kita sia-siakan sendiri. Sering kita yang merusaknya sendiri tanpa disadari dampak yang ditimbulkan.
Dengan kata lain, kekayaan yang aneka ragam itu, akhirnya menjadi terancam, bukan saja dari segi moral, tetapi juga jati diri bangsa pun rusak. Pertayaan selanjutnya, apakah kita semua memahami arti menjaga kekayaan dan keanekaragam itu?

Tampaknya hal itulah yang menjadi salah satu sorotan Presiden Joko Widodo, tatkala menyampaikan pidatonya pada acara lahirnya Pancasila itu. Presiden pun mengingatkan kita semua bahwa kodrat bangsa lndonesia adalah keberagaman. Takdir Tuhan untuk kita adalah keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke adalah keberagaman.

Dari Miangas sampai Rote adalah keberagaman. Berbagai etnis, berbagai bahasa lokal, berbagai adat istiadat, berbagai agama, kepercayaan, serta golongan bersatu padu membentuk lndonesia. ltulah Bhinneka tunggal ika kita, Indonesia.

Namun, ungkap Presiden, kehidupan berbangsa dan bernegara kita selalu mengalami tantangan. Kebinekaan kita selalu diuji. Ada pandangan dan tindakan yang selalu mengancamnya. Ada sikap tidak toleran yang mengusung ideologi lain selain Pancasila. Dan semua itu diperparah oleh penyalahgunaan media sosial, oleh berita bohong, oleh ujaran kebencian yang tidak sesuai dengan budaya bangsa kita.

Keprihatinan Presiden itu, tampaknya juga menjadi keprihatinan kita semua. Dan memang harus diakui banyak persoalan yang muncul di masyarakat  belakangan ini  selalu diwarnai oleh ungkapan kebencian, teror, intimidasi, dan bentuk  lain yang membuat pihak-pihak atau kelompok tertentu merasa tidak nyaman.

Belum lagi upaya atau aksi-aksi tertentu yang bukan hanya mengancam persatuan dan kesatuan bangsa,  serta keutuhan bangsa, tetapi juga mencoba bertentangan dengan Pancasila  dan konstitusi. Yang dikhawatirkan bila kondisi semacam ini  dibiarkan, ujung-ujungnya  adalah  perpecahan dan merugikan bangsa kita yang tengah berupaya menjadi bagian dari masyarakat dunia dalam menjaga perdamaian dan menciptakan kesejahteraan bangsa.

Presiden pun mengajak kita semua, bangsa Indonesia, untuk waspada terhadap segala bentuk pemahaman dan gerakan yang tidak sesuai dengan Pancasila.  Pemerintah pun akan bertindak tegas, itu sudah pasti,  terutama terhadap organisasi dan gerakan yang anti-Pancasila, anti-UUD 1945, anti-NKRl, dan yang anti-Bhinneka Tunggal Ika. Bahkan Pemerintah juga akan tegas terhadap paham dan gerakan komunisme yang jelas-jelas sudah dilarang di bumi lndonesia.

Untuk itulah, meminjam kalimat  Presiden Joko Widodo, “Mari kita jaga perdamaian, kita jaga persatuan, dan kita jaga persaudaraan. Mari kita bersikap santun dan saling menghormati, mari kita saling toleran dan bahu-membahu, mari kita bergotong royong demi kemajuan lndonesia.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here