Kota Terlarang Tak Tersentuh Banjir Selama 600 Tahun

(Foto: JX/theepochtimes)

BEIJING, JIA XIANG – Hujan selama lebih dari 55 jam yang melanda Kota Beijing, sejak 19 Juli – 20 Juli, mengakibatkan terjadinya banjir besar di ibu kota negeri tirai bambu itu. Bencana itu telah menewaskan sekitar 600 jiwa dan menelantarkan puluhan ribu orang lainnya. Warga ibukota yang secara historis tinggal di kawasan kering, tak pernah dilanda banjir, kini dapat “melihat lautan” dari jendela rumah mereka masing-masing. Bahkan mereka dapat “berjalan di air laut itu” setelah mendapatkan cuti dari kantor karena banjir. Namun di Beijing yang namanya tempat wisata Kota Terlarang, dibangun 600 tahun yang lalu di era Dinasti Ming, sampai kini tidak pernah tersentuh banjir. Walaupun pada saat ini serangan banjir begitu dahsyat.
Namun sejauh ini Kota terlarang tetap bukan untuk pars disatawan. Sementara pemerintah Kota Beijing mengeluarkan beberapa peringatan serangan badai, tetapi sekitar 30.000 wisatawan pada 20 Juli lalu tetap mengunjungi tempat wisata bersejarah itu. Melihat kondisi itu, guyuran hujan lebat dan ancaman banjir, namun Kota Terlarang, sama sekali tidak tergenang.
Menurut para pakar, Kota Terlarang memiliki sistem drainase dengan pengaturan lantai yang terintegrasi kemiringan medan, dan posisi saluran silang-menyilang, sehingga memandu kelebihan air ke sungai-sungai di sekitarnya, menurut Beijing News.

Forbidden-2
(Foto: JX/theepochtimes)

Akumulasi air hujan pada 19 Juli lalu menggenangi wilayah terburuk di Beijing hingga mencapai ketinggian 400 mm, sedangkan di kota ketinggian air 256 mm, tulis Kantor Meteorologi Beijing. “Hujan lebat seperti ini, Saya tidak merasa banyak air tergenang dan merendam kaki saat berjalan di Kota Terlarang. Sekarang begitu saya sampai di jalan, sepatu saya serta merta basah. Saya sangat mengagumi Kota Terlarang,” tulis netizen setelah mengunjungi lokasi wisata itu.
Sementara netizen lain mengatakan persoalan di bangunan perkotaan adalah jelas mencolok. Mengapa Kota Terlarang memiliki sistem penataan yang baik, sedangkan di kota modern, hujan badai menyebabkan jalan-jalan berubah menjadi sungai dan lautan, tulis netizen lainnya.
Menurut Gu Yunchang, Asisten Kepala Komisi Kebijakan, yang melayani Kementerian Perumahan dan Pembangunan Kota dan Pedesaan Cina, menegaskan pembangunan sekarang ini lebih memperhatikan kondisi di atas tanah, sedangkan di bawah tanah diabaikan. Bahkan mereka tidak pernah melihat jangka panjang. [JX/theepochtimes/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here