Kredibiltas untuk Didengar

Jia Xiang – Setelah sukses menyelenggarakan forum Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Bali, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terbang ke Brunei Darussalam, hari Rabu (9/10/13), untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi ke-23 ASEAN yang digelar hingga hari Kamis (10/10/13). Tema pertemuan tahun ini adalah Our People, Our Future Together.

Seperti biasa, 10 anggota  ASEAN akan membahas berbagai  hal-hal strategis mengenai politik dan ekonomi, termasuk upaya menjaga stabilitas dan kesejahteraan di kawasan. Pertemuan ini  juga akan dihadiri oleh tiga mitra dialog ASEAN yaitu Cina, Korea Selatan, dan Jepang.  Namun tak ketinggalan juga hadir Rusia, India dan Amerika Serikat.

Artinya pada saat yang bersamaan digelar empat KTT lainnya yaitu ASEAN +3, Asia Timur (EAS) ke-8, ASEAN – India  ke-11 dan ASEAN – Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-5.

Pertemuan tahun 2013 ini sebenarnya ajang untuk mempertegas kembali komitmen anggota ASEAN  untuk mencapai target-target yang sudah diputuskan bersama pada sidang-sidang sebelumnya.  Target yang paling dekat sebenarnya adalah   Komunitas ASEAN  2015 (ASEAN Community 2015).

Target yang ingin dicapai melalui Komunitas ASEAN itu antara lain terciptanya integrasi ekonomi, keterpaduan politik,  dan komunitas yang bertanggungjawab di bidang sosial, serta menjamin posisi ASEAN di komunitas global pada tahun 2015.

Karena tersisa dua tahun lagi, maka tahun 2014 nanti ASEAN tampaknya akan fokus pada percepatan implementasi target-target 2015 itu dan keselarasan tiga pilar Komunitas ASEAN yaitu Komunitas Politik-Keamanan ASEAN (ASEAN Political-Security Community/ASC),  Komunitas Ekonomi ASEAN/KEA (ASEAN Economic Community/AEC),  dan Komunitas Sosial Budaya ASEAN (ASEAN Socio-Cultural Community/ASCC).

Tampaknya selain Komunitas ASEAN, ada hal lain tidak kalah pentingnya yaitu persoalan lama yang sudah dibahas pada pertemuan ASEAN beberapa waktu lalu yaitu soal keamanan regional termasuk di dalamnya penyelesaian sengketa wilayah perairan beberapa anggota ASEAN dengan Cina. Hal lain yang menarik soal peran negara besar di kawasan Pasifik yaitu Amerika Serikat, yang disorot Cina sebagai upaya campur tangan AS pada keamanan regional.

Secara politik regional, banyak hal yang harus dibereskan ASEAN di tingkat internal, tetapi di sisi lain, ada persoalan yang membutuhkan  kesepakatan, kekompakan, dan kebersamaan dalam menghadapi kekuatan negara besar di luar lingkungan kawasan ini.
Indonesia, sebagai anggota ASEAN, tentunya tidak bisa lepas dari tanggungjawab untuk tetap menjaga nama baik dan eksistensi organisasi kawasan ini. Keberhasilan dalam memimpin ASEAN, sebagai ketua pada tahun 2011, sudah menunjukkan kualitas dan kredibilitas sebagai negara yang mampu menjaga  kekompakan ASEAN.

Peran inilah yang diharapkan tetap dimainkan oleh Indonesia melalui kepemimpinan Presiden Yudhoyono. Berbagai keraguan dan kritikan dari masyarakat luas tentang kemampuan Indonesia menghadapi rencana pengintegrasian kawasan ASEAN menjadi komunitas tunggal  atau komunitas ASEAN,  masih terbengkalai. Artinya, di tingkat internal, banyak hal yang harus dibenahi Indonesia. Perlu diakui banyak negara ASEAN juga masih menghadapi kendala seperti yang dialami Indonesia. Persoalannya,  apakah semua anggota ASEAN mau bahu-membahu mengatasi kesulitan bersama? Ini Semua bergantung pendekatan politik, kebudayaan, dan persahabatan yang dilakukan pemimpin Indonesia untuk mengajak semua anggota ASEAN menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Inilah momentum kedua, setelah kesuksesan KTT APEC di Bali,  bagi Indonesia untuk memperlihatkan kembali kredibilitasnya sebagai “senior” di ASEAN, yang mempunyai “wibawa” untuk didengar. [Iman Sjahputra]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here