KTT G20, Cina Yakin Mampu Pertahankan Pertumbuhan

BEIJING, JIA XIANG – Ambisi Cina untuk mereformasi ekonomi dan mempertahankan pertumbuhan tinggi jangka menengah memberikan harapan dan stabilitas ekonomi dunia, ungkap para pakar yang mengikuti pertemuan tingkat tinggi G20, Selasa (6/9/16) di Hangzhou, Cina.Keyakinan itu ditegaskan oleh Presiden Cina, Xi Jinping, ketika membuka pertemuan tersebut, dihadapan para pengusaha. Hal ini membuktikan bahwa Cina menyadari untuk mewujudkan pertumbuhan yang kuat dan tidak akan menuju jalan sesat pada reformasi struktural.
Menurut Xi, Cina yakin dan mampu mempertahankan pertumbuhan jangka menengah, serta menjalankan peluang pembangunan di dunia, sambil memastikan jalannya pembangunan di dalam negeri.
Pidato Xi itu memastikan dunia bahwa Cina yakin mempertahankan pertumbuhan yang kuat melalui reformasi ekonomi, yang akan juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dunia, ungkap Jia Jinjing, peneliti pada Institut Studi Finansial Chongyang pada Universitas Renmin Cina.
Pertumbuhan pesat selama lebih dari beberapa dekade ini, membuat Cina menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke dua di dunia. Hal ini bukan saja menguntung Cina, tetapi negara lain di seluruh dunia. Namun demikian, sektor ekspor dan investasi, yang memacu pertumbuhan, dan menjadi penggerak pembangunan sudah mencapai batas tertinggi. Masalah-masalah negara maju baru, seperti industri kelebihan kapasitas, tingginya tingkat utang, polusi, dan permintaan global lesu.
Di sisi lain, Cina berhasil mengajak anggota G20 berjanji untuk mengakhiri proteksionisme perdagangan dan investasi global, yang telah merusak perekonomian negara itu. Namun Cina belum bisa segera meraup keuntungan apapun karena G20 memberi kesempatan hingga tahun 2018 kepada anggota-anggotanya untuk mewujudkan perjanjian tersebut.
Komunike bersama setelah pertemuan dua hari pemimpin negara-negara dengan tingkat perekonomian yang baik itu menyatakan, “kita berkomitmen untuk berdiri teguh dan mengulur langkah-langkah proteksionis hingga akhir tahun 2018, memastikan kembali target untuk melaksanakan hal ini dan mendukung kinerja Organisasi Perdagangan Dunia WTO, Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan UNCTAD, dan Organisasi Kerjasama Pembangunan dan Ekonomi OECD dalam memantau proteksionisme.
Karena itu, guna tercapainya perjanjian ini, Cina membayar mahal dengan setuju mengkaji keberatan soal kompetisi tidak adil yang dilakukan Cina lewat kebijakan subsidi produksi baja. Negara-negara Barat telah menyampaikan keberatan bahwa subsidi baja dari Cina telah menghantam industri global dan menimbulkan pengangguran. Amerika membalas kebijakan itu dengan memberlakukan pajak baja Cina sebesar 500% . [JX/VOA/Xinhua/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here