Kualitas Pemilu

Pemilihan Umum (pemilu) 2014, baik legislatif maupun presiden boleh dibilang tinggal menghitung hari. Namun dalam setiap pelaksanaan pemilu di negeri ini, kita selalu dibayang-bayangi tingginya angka golput. Golput sendiri singkatan dari Golongan Putih yang artinya, anggota masyarakat yang sejatinya punya hak memilih namun tidak menggunakan haknya.

Sejatinya Bangsa Indonesia yang sudah melaksanakan pemilu legislatif (pileg) sejak 1955 hingga 2009 seharusnya sudah mafhum apa makna pemilu sebagai bagian dari sistem demokrasi. Namun, mengapa setelah 10 kali pelaksanaan pemilu, angka golput bukan semakin turun, sebaliknya cenderung semakin meningkat?

Jika dikatakan bahwa masyarakat kurang paham bisa dipastikan alasan itu tidak tepat, sebab  semestinya semakin banyak pengalaman melaksanakan pemilu masyarakat akan semakin mengerti makna pemilu.

Lalu mengapa golput terus meningkat? Itu tak lain karena masyarakat Indonesia sudah semakin pintar memaknai pemilu. Pemilu bagi rakyat bukan sekedar “pesta lima tahunan” apalagi hura-hura di panggung politik dan bagi-bagi sembako atau sumbangan sampai “serangan fajar” untuk mempengaruhi “nurani” rakyat pemilih.

Pemilu bagi rakyat adalah pembaharuan sekaligus perbaikan “nasib” sebagaimana dicita-citakan konstitusi menuju negara yang sejahtera dan berkeadilan. Jurang antara yang kaya dan yang miskin di tengah masyarakat tidak semakin menganga lantaran korupsi yang merajalela.

Lantas apa catatan kita bagi para elite di negeri ini? Perlu diingat bahwa golput adalah salah satu perwujudan kekecewaan masyarakat terhadap elite termasuk kepada partai politik yang sudah tidak bisa dipercaya rakyat, khususnya para golput lantaran tidak bisa memberikan bukti perbaikan nasib rakyat.

Pertanyaanya apakah pemilu itu masih milik rakyat? Atau semata milik elite yang menunjukkan “seolah-olah” negeri ini masih demokratis? Tentu kita tidak berharap seperti itu. Pemilu harus melahirkan figur-figur legislatif dan pemimpin negeri yang amanah sesuai cita-cita konstitusi.

Kita tentu berharap pemilu 2014, baik pada pileg yang akan dilaksanakan 9 April dan pilpres pada 9 Juli angka golput tidak semakin meroket. Mungkinkah? Kita lihat saja hasil pemilu mendatang. Namun perlu kita camkan bersama, bahwa apapun hasilnya, tinggi rendahnya golput sangat bergantung kepada kualitas pemilu yang secara langsung berkaitan erat dengan legitimasi figur yang terpilih dalam pemilu itu. Semakin sedikit golput artinya semakin kuat dukungan rakyat atas figur yang dipilih dan itu sama artinya semakin tinggi tingkat kepercayaan rakyat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here