Kualitas Tidur Penduduk Tiongkok Rendah

Para siswa di sebuah taman kanak-kanak di Kota Handan, Provinsi Hebei, sedang belajar teknik-teknik tidur. (Foto: JX/Chinadaily)

BEIJING, JIA XIANG – Orang yang hidup di kota-kota kecil biasanya memiliki kualitas tidur yang jauh lebih baik dibanding penduduk kota besar di Tiongkok. Emosi negatif berkontribusi besar untuk terjadinya penyimpangan atau mempengaruhi kualitas tidur, demikian sebuah laporan yang dikeluarkan menjelang Hari Tidur Sedunia, yang jatuh pada Senin mendatang.
Menurut Indeks Kualitas Tidur Tiongkok 2016, yang dikeluarkan akhir pekan lalu oleh perusahaan konsultan, Dataway, bersama Sleemon, perusahaan kasur terkenal, jugua memperlihatkan emosi negatif sebagai gangguan utama kualitas tidur penduduk di Tiongkok.
Penelitian itu didasarkan pada data masukan dari sebuah kuesioner yang diajukan secara online antara bulan Januari dan Maret kepada para netizen di 30 provinsi, kabupaten dan wilayah otonomi, ungkap Dataway.
Survei yang dilakukan itu rata-rata memiliki indeks tidur 69 dari nilai 100 yang diajukan. Hal ini mengindikasikan kesenjangan secara menyeluruh dalam kualitas tidur orang Tiongkok, tulis laporan tersebut. Indeks tidur itu didasarkan pada tujuh alat ukur, termasuk kemampuan cepat terlelap, memiliki jam tidur reguler dan kemampuan mengendalikan emosi.
Para responden memiliki skor 49,3 dalam kemampuan mengendalikan emosi, ini urutan terendah dari tujuh alat ukur itu. Artinya emosi negatif menjadi kontribusi terbesar yang mempengaruhi kualitas tidur seseorang, tulis laporan tersebut. Juga disebutkan bahwa penduduk di kota-kota lebih besar umumnya sedikit memiliki kondisi tidur yang buruk. Penduduk di kota seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou rata-rata indeks kualitas tidurnya 67,2, sedangkan di kota berukuran sedang dan kecil angka kualitas tidurnya 70,4.
Semua ibu kota provinsi, Nanjing di Provinsi Jiangsu, memiliki indeks tertinggi yaitu 71,4 dengankan Kota Hothot di wilayah otonomi Inner Mongolia indeksnya terendah sebesar 65,5. Laporan itu juga menunjukkan bahwa orang-orang bekerja sebagai freelance dan di bidang penjualan masuk dalam tenaga profesional memiliki masa tidur terpanjang yaitu rata-rata 8,3 jam. Sedangkan wartawan surat kabar hanya 7,5 jam per hari kerja, angka ini adalah terendah dari 18 frofesi utama yang ikut disurvei.
Penyimpangan tidur, menjadi masalah di seluruh dunia dan berdampak pada sepertiga penduduk Tiongkok, ungkap Zhang Guoping, dokter ahli syaraf di departemen neorologi Rumah Sakit Shijitan Beijing.
“Banyak faktor, seperti tekanan kerja yang berat, emosi negatif dan penggunaan produk elektronik di malam hari, dapat menyebabkan penyimpangan waktu tidur,” ujar Zhang. “Insomnia dalam berdampak buruk bagi kesehatan, termasuk hilangnya daya ingat, dan penderita insomnia jangka panjang akan tiga atau empat kali lebih besar menderita dibanding mereka yang tidak mengidap insomnia.”
Masalah kesehatan seperti penyakit jantung, begitu juga emosi negatif-ketegangan dan rasa khawatir- juga dapat menyebabkan penyimpangan tidur. Karena itu, para penderita yang begitu serius disarankan untuk mendapat perawatan medis lebih lanjut, tambahnya. [JX/chinadaily/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here