Kulit Seekor Rubah

Foto ilustrasi seekor Rubah (Foto: JX/Ist)

BEIJING, JIA XIANG – Pada zaman dulu, hiduplah seorang pemuda, yang bernama Lisheng. Dia baru menikah dengan seorang wanita yang cantik. Pengantin wanita itu dikenal sangat keras kepala.

Suatu hari, dia mempunyai angan-angan memiliki mantel dari seekor bulu rubah. Dia beranggapan dengan kulit bulu hewan itu, dia akan terlihat semakin cantik.

Jadi dia meminta suaminya untuk mendapatkan atau membuat satu mantel dari bulu hewan tersebut. Tapi mantel atau jubah dari kulit seekor rubah sangat langka dan kalau ada tentu harganya sangatlah mahal.

Suaminya  tak berdaya ketika istrinya memaksa dia untuk mencari seekor rubah. Akhirnya Lisheng pun harus berjalan mengelilingi lereng bukit mencari hewan itu.

Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba seekor rubah pun melinatas. Namun waktunya bagi Lisheng sudah terlambat,  untuk bisa menangkap ekor rubah.  Lalu Lisheng pun kepada rubah itu mengatakan, “Yah, rubah sayang, mari kita membuat kesepakatan. Bisakah Anda memberikan saya selembar kulit Anda? Itu bukan masalah besar bukan?”

Rubah pun terkejut pada permintaan tersebut. Tapi rubah tersebut menjawab dengan tenang, “Baik, sayangku, itu mudah. Tapi mari biarkan ekor saya pergi, sehingga saya bisa menarik kulit saya untuk Anda.”   Jadi Lisheng pun dengan  senang hati membiarkan rubah itu bebas dan menunggu untuk kulit hewan tersebut.  Tapi saat rubah itu bisa bebas, dia lari secepat mungkin ke hutan.

Cerita ini sebenarnya menggambarkan atau menjadi rujukan bagi banyak orang bahwa akan sulit untuk meminta seseorang melakukan tindakan atau mengerjakan sesuatu  yang melawan kehendaknya atau kata hatinya sendiri, meskipun peristiwa seperti ini hanya terkadang saja terjadi. [JX/Chineseculture/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here