Kunjungi Lapas, 13 Delegasi Negara Asing Dipameri Karya Warga Binaan

Sebanyak 13 anggota delegasi negara asing mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Surabaya di Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (24/8/16). (Foto: JX/Budi Arie Satriyo)

SIDOARJO, JIA XIANG – Sebanyak 13 anggota delegasi negara asing mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Surabaya di Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (24/8/16). Dalam kunjungannya, para delegasi ini ingin melihat secara langsung karya-karya warga.

Para delegasi itu berasal dari Myanmar, Jerman, Swiss, Inggris, Belanda, Thailand, Timor Leste, Kamboja, Brunai Darussalam, Australia, Norwegia, Jepang dan, Korea Selatan.

Kedatangan mereka disambut langsung oleh Penasehat Menteri Kemenkumham dan alunan musik patrol. Di tempat itu, mereka melihat langsung kreatifitas warga binaan seperti pembuatan furniture, kapal boat dan kreatifitas-kreatifitas warga.

Penasehat Menteri Kemenkumham, Ian Siagian mengatakan, kunjungan mereka ke Lapas Klas I Surabaya ini selain untuk mempererat hubungan baik antarnegara, juga melihatkan beberapa karya kreatifitas para warga binaan yang rata-rata produksinya diekspor keluar negeri.

“Melalui kegiatan ini, kami juga ingin mengenalkan kegiatan penjara kita yang mungkin berbeda dengan negara mereka. Jadi saat mereka balik ke negaranya mempunyai kesan mengapresiasi selama empat hari waktu menjamu mereka,” ucapnya.

Dia menambahkan, sejumlah delegasi yang hadir di dalam lapas Porong merasa sangat puas dan bangga dengan segala kegiatan yang ada di dalam lapas. Karena saat menjalani masa tahanan, mereka masih mempunyai kesempatan untuk bekerja bahkan karyanya diakui di luar negeri. “Menurut mereka sangat puas. Apalagi tadi setelah menyicipi tahu produksi para warga binaan,” tambahnya.

Sementara itu, Kalapas Klas I Surabaya, Prasetyo menyatakan bahwa jumlah narapidana dan warga binaan terdapat 1858 dan rata-rata menjalani hukuman menengah keatas atau minimal 5 tahun dan maksimal seumur hidup. Sedangkan yang bekerja didalam lapas, terdapat 300 orang meliputi pekerjaan kegiatan pertanian, peternakan lele, pembuatan kapal, pembuatan furniture dan pekerjaan-pekerjaan lain.

“Hasilnya untuk mereka semua. Sehari mereka bisa mendapatkan gaji Rp13.500, karena mereka bukan pekerja UMR melainkan premi. Selama 6 bulan biasanya mengirim sebanyak dua sampai tiga container untuk dikirim ke Eropa, Jepang dan Korea,” kata Prasetyo.

Selain itu, keuntungan yang masuk dalam khas negara dari penjualan ini, sebanyak Rp 9 sampai Rp 10 juta per bulan. Sedangkan bagi narapidana dan warga binaan yang masa tahanannya habis dan ingin kembali bekerja di dalam lapas, mereka ditampung oleh perusahaannya dan diberikan sertifikat.

“Setelah mereka keluar, perusahaannya bisa menampung kalau mereka masih ingin bekerja di tempat itu. Karena ini sesuai dengan program Pemerintah Provinsi Jawa Timur, kitakan mencoba untuk mensejahterakan mereka, syukur-syukur mempunyai sertifikat dan bisa bekerja di perusahaan lain yang gajinya UMR,” pungkasnya. [JX/Bas/W5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here