Kurikulum 2013 Dilaksanakan Bertahap

Kurikulum pendidikan 2013 tetap akan dilaksanakan Juli 2013.  Namun belum sampai tahap itu,  muncul polemik soal konsep dan substansi kurikulum yang menurut sebagian kalangan bagus. Tetapi beberapa kalangan lain justru mengkhawatirkan pelaksanaan di lapangan.
Kekhawatiran itu  antara lain soal kesiapan guru dan materi ajaran. Tapi banyak kalangan justru meragukan kemampuan guru.  Yang pasti beberapa waktu lalu Komisi X DPR sempat keberatan dengan rencana implementasi Kurikulum 2013,  karena pihak-pihak terkait belum siap untuk melaksanakannya. Bahkan alokasi anggaran kurikulum 2013 sempat berubah-ubah.  Januari 2013 Kemdikbud alokasikan Rp 680 miliar, tapi DPR menyetujui Rp 611 miliar. Dari jumlah itu,  sekitar Rp 500 miliar  ditahan sampai ada hasil Panja Kurikulum 2013 bentukan DPR.
Kemudian Kemdikbud menaikan alokasi anggaran menjadi Rp 1,2 triliun.  Lalu diajukan lagi hingga sekitar  Rp 2,4 triliun.  Jumlah sekolah untuk pelaksanaan kurikulum pun berubah-ubah,  dari  sekitar 2 juta, menjadi hanya 6.000-an saja.
Tidak heran bila  muncul penolakan. Istilah lama pun muncul,  ganti menteri ganti kurikulum.  Tapi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh, justru berkelit, Kurikulum 2013 ini dipersiapkan untuk menjawab perubahan dunia. Tetapi kesannya kurikulum ini  terlalu dipaksakan tanpa  persiapan  matang.
Yang pasti, menurut anggota Komisi X DPR dan Panja Kurikulum, Reni Marlinawati, Komisi X sempat menunda pembahasan soal kurikulum ini. Kepada Jia Xiang Hometown, hari Sabtu (11/5/13) melalui telepon di Jakarta, dia sempat meminta pemerintah jangan memaksakan pelaksanaan kurikulum.
Tetapi menurut Staf Khusus Menteri, Sukemi, Sabtu (15/6/13),  pada 15 Juli mendatang, Kurikulum 2013 tetap akan dilaksanakan, namun secara bertahap  dan terbatas.
Artinya, ungkap Sukemi kepada Jia Xaing Hometown, tidak semua kelas di seluruh jenjang pendidikan melaksanakan kurikulum baru itu. “Di jenjang SD baru di kelas 1 – 4. Di SMP kelas 7, di jenjang SMA kelas 10, ” tambah Sukemi.  “Jadi kita melihat hanya di jenjang yang dianggap mampu saja.”
Pelaksanaan Kurikulum 2013 ini tetap dilaksanakan di 33 provinsi,  di 395 kabupaten kota. Dan jumlah sekolah yang melaksanakannya mulai dari SD – SMK sebanyak 6.325.  Pelaksanaan kurikulum ini bertahap hingga tahun 2015.  Katanya, evaluasi akan terus dilakukan, dan penyempurnaan-penyempurnaan materi juga dilaksanakan.
Sukemi menambahkan, dalam pelaksanaan ini muncul hambatan atau kesulitan. “Kita berharap banyak pada guru. Sebab suksesnya kurikulum ini semua bergantung pada guru yang menjalankan metode-metode baru,” tambahnya.
Karena itu, nanti akan juga dilaksanakan pelatihan bagi guru, mulai di tingkat internasional, nasional, sampai di jenjang regional.
Untuk itu, Juru Bicara Kemndikbud, Ibnu Hamad,  Senin (17/6/13) kepada Jia Xiang Hometown menambahkan, sekarang pihaknya sedang dicetak buku, dan mempersiapkan pelatihan guru, supaya pada pelaksanaannya mereka sudah siap.
Dan soal anggaran DPR pun sudah menyetujuinya yaitu Rp 829 miliar. “Jadi harapannya dengan kurikulum ini, pembentukan sikap atau attitude siswa terbentuk lebih baik lagi,” ujar Ibnu Hamad. “Siswa bisa lebih toleran, saling menghargai, dan taat, disamping ilmu pengetahun yang diterima.”
Karena itu, Reni Marlinawati, mengharapkan pelatihan guru tidak mubazir. Untuk itu sebaiknya pemerintah perlu mensosialisasikan kurikulum baru itu.
Sepertinya setiap perubahan kurikulum menjadi perbincangan.  Sejauh ini, perubahan  kurikulum sejak 1947, lalu Tahun 1950-an kurikulum berubah setelah digunakan selama 18 tahun. Kurikulum 1950 itu berubah tahun 1968 yang digunakan selama 7 tahun, dan disempurnakan  tahun 1975,  lalu 1948 disempurnakan lagi.
Kurikulum 1984 digunakan selama 10 tahun. Perubahan berikutnya 1994 (dilengkapi Suplemen Kurikulum 1999).  Baru  2004  Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), dan 2006,  KBK disempurnakan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Setelah itu kurikulum tahun 2013 yang akan diterapkan 15  Juli.

Calistung
Dikhawatirkan Kurikulum 2013 ini sama dengan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang coba dimunculkan lagi, ungkap Djauzak Ahmad, mantan Direktur Sekolah Dasar, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1991-1995).  CBSA, secara teoritis baik,  dan hasilnya bagus di sekolah-sekolah yang diujicobakan. Tetapi secara nasional banyak penyimpangan, sebab sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA.
Yang terlihat gaduh di kelas, siswa sibuk berdiskusi, dan guru tidak mengajar dengan model berceramah.  “Kurikulum itu yang dulu saya hapuskan tahun 1990-an. Karena itu, kurikulum sekarang yang katanya tematis, dikhawatirkan  seperti CBSA,” ujarnya.
Katanya, dulu tidak ada pelatihan guru, tapi ada silabus dan buku. “Kalau sampai ada pelatihan kurikulum itu, maka kurikulum seperti apa itu?” tegasnya.
Sederhana saja, misalnya di SD,  menurut Djauzak, calistung (baca, tulis, hitung) harus diketahui siswa. Kenyataannya pengetahuan calistung minim. Di negara ini terlalu cepat meniru pihak lain, dan diganti dengan matematika. Hal ini, katanya, dilakukan supaya bisa dianggap maju.
“Kesalahan fatal bangsa ini adalah menghapus berhitung. Baca, tulis, hitung ini penting. Dan anak sekarang ini paling lemah, akibatnya pendidikan dasar di Indonesia pun rusak,” tegasnya.
Keadaan itu memperlihatkan, para pengelola pendidikan, walaupun berstatus guru besar di berbagai perguruan tinggi, tetapi minim pengetahuan mengenai pendidikan dasar dan menengah. Rusaklah pendidikan dasar di negara ini, dan hal itu sudah terlihat dari pelaksanaan ujian nasional  (UN) 2013 yang amburadul. [E4]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here