MEDAN, JIA XIANG – Mie putih atau kwetiau bukan hal asing bagi masyarakat Indonesia. Makanan berbahan dasar tepung beras ini bentuknya menyerupai mie namun dengan ukuran sedikit lebih lebar dari mie biasa. Di pasar-pasar tradisional, terutama di sekitar pemukiman etnis Tionghoa, kwetiau sangat mudah diperoleh, apalagi Kwetiau Ateng yang tersohor itu.

Kwetiau bisa diolah dan disajikan dalam berbagai menu makanan, seperti kwetiau kuah bakso, bak kut, kwetiau goreng kering dan sebagainya.

Di Kota Medan Sumatera Utara, Kwetiau Ateng menjadi salah satu favorit masyarakat setempat dan memiliki cabang di beberapa lokasi. Awalnya rumah makan itu dirintis oleh Ateng sejak 40 tahun silam di Jalan Sumatera, karena dirinya memang sangat berbakat dalam membuat masakan tersebut. Kini masakan olahan Ateng itu kerap menuai pujian dari warga setempat.

Ateng sang perintis bisnis tersebut lalu mewariskan ilmu memasaknya kepada Lina, anak kandungnya yang mulai memasak kwetiau pada usia 18 tahun. Saat ini usia Lina sudah 50 tahun dan mengelola salah satu cabang rumah makan Kwetiau Ateng di Kota Medan.
“Lina yang pertamakali meneruskan usaha orang tuanya ini sehingga toko Kwetiau Ateng di Jalan Sumatera dan S. Parman tetap berjalan. Ateng sendiri sekarang sudah berusia 70 tahun,” ujar Awei, suami Lina saat ditemuai Jia Xiang Hometown.[JX/Iman Sjahputra]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here