Laoya Desa Para “Jomblo” di Cina (2)

Salah satu rumah milik warga Laoya. (Foto:JX/BBC)

Kampung Halaman
Di Anhui, tempat Xiong tinggal, Kota Shanghai memiliki daya pikat tersendiri bagi para wanita. Mereka bisa menemukan pekerjaan jauh lebih baik dan menemukan seorang suami. Beberapa diantaranya kembali lagi ke kampung halaman, tapi tentu saja dalam keadaan sudah menikah.Sementara itu para laki-laki ikut keluar juga dari desa, tapi biasanya hanya untuk bekerja. Beberapa orang tinggal di kampung halaman untuk mengurus orang tua mereka, sesuai dengan tradisi Cina. Xiong Jigen memutuskan untuk tinggal di kampung halaman demi merawat pamannya.
“Dia tak akan mendapatkan makanan jika saya tinggalkan. Dia tak bisa pergi ke pantai jompo,” tutur Xiong saat bercerita tentang pamannya. Kewajiban generasi muda untuk merawat orangtua tetap merupakan bagian penting dari kehidupan keluarga di Cina. Bahkan Presiden Xi Jinping telah berbicara tentang bagaimana dia meyakini tidak ada sesuatu yang terbangun lebih kuat dari pertalian keluarga.
Di sisi lain, belum lama ini Shanghai mengeluarkan aturan yang menyebut bahwa anak-anak akan mendapat hukuman jika tak mengunjungi orangtua mereka.
Walaupun banyak wanita di Laoya yang memutuskan untuk meninggalkan desanya, beberapa di antara mereka lebih memilih untuk tinggal, salah satunya adalah tetangga Xiong, Wang Caifeng (39 tahun). Dia adalah petani yang hidup dengan dua anak dan seorang suami. “Kampung halaman adalah yang terbaik. Tentu saja saya lebih memilih tinggal di sini,” kata Wang.

Wang Caifeng (tengah) bersama dua anaknya. (Foto: JX/BBC)
Wang Caifeng (tengah) bersama dua anaknya. (Foto: JX/BBC)

Lalau apa yang diharapkan bagi masa depan kedua anak perempuannya. Saat ini, mereka berjalan selama lebih dari satu jam, dua kali sehari, untuk bisa sampai ke sekolah.
Apakah mereka akan baik-baik saja jika kedua putrinya meninggalkan desa setelah mereka dewasa nanti? Wang pun berharap agar anak-anaknya tetap tinggal bersamanya. Namun anaknya yang berusia 14 tahun, Fujing, ingin menjadi seorang dokter seperti ayahnya.
Dia merasa profesi ini akan berjalan baik jika anaknya tinggal di “dunia luar” yang tidak terlalu jauh. Bahkan, mereka memiliki televisi satelit, Xiong juga punya sepeda. Jalan utama ke kota kecil tidaklah terlalu jauh.
Namun Laoya terasa benar-benar terpencil. Bahkan ketika para wanita telah datang untuk melihat rumah baru Xiong, yang dibangun tiga tahun yang lalu, tidak cukup untuk membujuk mereka untuk tinggal dan menjadi istrinya.
Tapi Laoya bukanlah satu-satunya desa bujangan. Hal tersebut menggambarkan dilema kehidupan pedesaan di Cina: terikat dengan tanah, ketimpangan jumlah laki-laki dan perempuan, kewajiban untuk merawat yang lebih tua, dan transportasi yang buruk. [JX/BBC/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here