Leicester Bangkit, Jadi Ancaman di Liga Champions

Para pemain Leicester rayakan kemanangan (Foto: JX/BBC)

WASHINGTON, JIA XIANG – Tiga pekan lalu mereka terpuruk di papan terbawah dan terancam degradasi, kini Leicester melaju ke perempat final Liga Champions dan mengancam menciptakan akan keajaiban kedua di kejuaran antarklub terbesar dunia itu.

Klub dan tim yang membuat tradisi menjungkir-balikkan logika itu melakukannya lagi, untuk membalikkan ketinggalan 1-2 di leg pertama dari Sevilla, tim yang sedang merajalela di La Liga, dengan menang 2-0 di tengah suasana gairah dan emosi yang membangkitkan kenangan musim lalu saat memenangkan gelar Liga Primer.

Padahal tiga minggu lalu, setelah pertandingan pertama di Spanyol, Leicester memecat Claudio Ranieri, orang yang mendalangi kemenangan Liga Primer mereka, di tengah cerita tentang keresahan di ruang ganti dan kecemasan akan degradasi.

Bagaimana mereka melakukan transformasi ini? Dan seberapa jauh bisa mereka bisa melaju di Liga Champions?

Tatkala Leicester memecat Ranieri pada 23 Februari, Liga Champions seperti dikesampingkan terkait kecemasan bahwa the Foxes akan terdegradasi ke Divisi dua, atau Championship.

Mereka berhasil mencetak gol tandang yang penting dalam kemenangan tipis 1-2 di Sevilla untuk jadi modal besar bagi laga kedua, dalam pertandingan terakhir bagi Ranieri, namun kekhawatiran yang lebih luas menyebabkan pemecatan pelatih asal Italia itu.

Usahawan Thailand pemilik klub itu membutuhkan orang untuk menemukan kembali unsur yang telah hilang dalam sembilan bulan sejak Leicester mengangkat trofi Liga Primer di salah satu kisah olahraga terbesar yang pernah terjadi. Mereka membutuhkan orang untuk menjaga mereka bertahan di Liga Primer, dengan sukses di Liga Champions jatuh ke dalam kategori bonus tambahan.

Mereka berpaling ke Craig Shakespeare, yang dulu datang ke klub itu bersama Nigel Pearson dan tetap tinggal untuk membantu Ranieri di musim impian itu.

Dan, dalam sekejap, bandul berbalik. Shakespeare memulihkan tim Leicester ini ke keadaan awal suatu tim pemenang gelar – dan transformasi itu ternyata luar biasa. Shakespeare, yang dikontrak sampai akhir musim, memenangkan tiga dari tiga pertandingan.

Menang mengesankan melawan Liverpool dan Hull telah menenangkan kekhawatiran degradasi namun kemenangan ini atas Sevilla adalah pembenaran yang paling menonjol dari metode Shakespeare. Ini adalah jenis kemenangan yang membangun reputasi harum dan, dalam kasus pemain Leicester, dihidupkan kembali.

Dia secara efektif memulihkan kinerja tim pemenang gelar musim lalu, dengan pengecualian peran Wilfred Ndidi untuk menggantikan N’golo Kante , dan memerintahkan mereka untuk bermain dalam intensitas dan serangan balik yang sama – menggunakan kecepatan Jamie Vardy dan kreativitas Riyad Mahrez – yang membawa kesuksesan musim lalu.

Leicester telah kembali pada tim dengan keberhasilan memainkan sepakbola yang tidak rumit dari musim lalu, menghindarkan ancaman untuk menjadi yang anti-klimaks terbesar .

Ketika mereka kalah 2-0 dari pesaing di zona degradasi, Swansea pada 12 Februari, hasil yang berbuntut pada berakhirnya nasib Ranieri, mereka berada di tempat ke-17 dengan 21 poin dari 25 pertandingan Liga Primer. Saat itu Leicester merupakan klub yang sedang terjun bebas.

Pendekatan Shakespeare sederhana namun sangat spesifik. Leicester telah kembali ke apa yang terbaik yang bisa mereka lakukan dan apa yang kebanyakan lawan tidak suka. Dan dalam melakukannya, Stadion King Power kembali menjadi arena megah seperti musim lalu.

Kemenangan atas Sevilla adalah pembenaran yang paling tegas dari berbagai peristiwa beberapa minggu terakhir di Leicester. [JX/BBC/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here