Lewat DNA, Penduduk Asli Pasifik Berasal dari Asia

Tengkorak yang digunakan untuk meneliti asal muasal orang kawasan Pasifik (Foto: JX/bluemountainsgazette.com.au)

WELLINGTON, JIA XIANG – Sebuah bukti pemeriksaan DNA menunjukkan bahwa  penduduk asli Pasifik berasal dari Asia. Dari sudut kesehatan, bukti ini sesungguhnya mengarah pada mempermudah upaya perawatan kesehatan bagi masyarakat yang ada di kawasan Pasifik. Demikian diungkapkan oleh para peneliti dari Selandia Baru, Selasa (4/10/16) di Wellington.

Studi baru itu merupakan yang pertama memeriksa DNA tulang belulang manusia yang sudah berusia 3.000 tahun, dan sekaligus mengidentifikasi siapa orang pertama yang mencapai kepulauan di Pasifik, ujar anggota peneliti Prof Murray Cox dari Universitas Massey, Selandia Baru.

Dengan cara memeriksa sisa-sisa kerangka tulang dari manusia pertama yang menetap di Vanuatu dan Tonga, para peneliti itu berhasil menghentikan sejenak perdebatan mengenai manusia Pasifik,  yang sudah berlangsung selama 40 tahun, ungkap Cox.

Para peneliti tersebut sudah menunjukkan manusia  kuno di kawasan itu memiliki sedikit atau tidak sama  berasal dari keturunan Papua,  yang membuktikan orang pertama mencapai daerah pedalaman Oseanea adalah dari kelompok petani orang Asia. Kemudian mereka bergerak membawa gen Papua ke kawasan Pasifik.

Sebelum penelitian tersebut, tidak ada DNA genomik purba yang pernah diperoleh atau diteliti dari daerah tropis, termasuk Pasifik.  Karena itu, hasil penelitian sekarang ini telah membuahkan dua skenario yang saling berlawanan untuk menjelaskan mengapa warga adat asli Selandia Baru, Maori dan masyarakat pulau Pasifik (Pasifika) memiliki keturunan Papua dan Asia.

Teori lain menyatakan bahwa kelompok petani bergerak keluar Asia dan bercampur dengan orang dekat Papua Nugini dan menciptakan kelompok campuran,  serta kelompok campuran lain yang menetap di Pasifik.

“Makalah penelitian ini memberikan kita gambaran dasar pertama dari susunan dari warga kepulauan Pasifik,” kata Cox.”

Mengetahui hal ini penting,  karena beberapa variasi genetik yang disebabkan oleh percampuran populasi ini kemungkinan akan dikaitkan dengan hasil kesehatan, misalnya  menjelaskan mengapa masalah kesehatan seperti obesitas dan diabetes menjadi tantangan seperti bagi masyarakat Pasifik hari ini. Pada akhirnya, memahami DNA ini dapat memberi kita ide baru untuk perawatan kesehatan. ”

Paling Awal

Studi ini meneliti DNA purba dari tiga orang yang paling awal menetap di Vanuatu hingga berusia 3.100 tahun yang lalu,  dan orang lain sebagai manusia yang paling awal  menetap di Tonga hingga berusia 2.700 tahun yang lalu.

Data yang diperoleh itu kemudian dibandingkan dengan sampel DNA dari 356 manusia masa kini dari 38 populasi Asia dan Oseania Tenggara.

Studi ini juga melaporkan perkiraan yang paling akurat dari bias seks  campuran  – perbedaan dalam proporsi laki-laki dan perempuan berkontribusi terhadap gen seseorang – di bangsa Asia Tenggara dan Pasifik beragam hingga masa kini.

“Selama tahap berikutnya dari proses menetap di kawasan itu,  ketika dua kelompok bercampur,  pernikahan antara wanita Asia dan orang Papua sering terjadi, menyebabkan keragaman pola ‘bias-sex’ yang tidak biasa dalam genom keturunan mereka,” kata Cox.  “Sangat mungkin kemudian bahwa ini pencampuran orang dengan keturunan Papua terutama didorong oleh para pria Papua yang datang ke Oseania dan menikahi wanita Asia.” [JX/Chindaily/Xinhua/Eka]

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here