Li Ka-Shing – Beijing “Bercerai”

li ka shing

HONG KONG, JIA XIANG-Resmi sudah, orang terkaya di Asia Li Ka-shing bukan lagi model pengusaha favorit bagi Beijing, demikian sebuah ulasan yang ditulis George Chen di “South China Morning Post”, Senin (19/1/15).

Dalam tulisan itu George mengamati sikap pemerintah Tiongkok terhadap Li  yang tercermin pada media pro negara
Seminggu setelah Li Ka-shing, yang diduga berhubungan dekat dengan mantan penguasa Tiongkok Jiang Zemin, mengumumkan untuk mengungsikan seluruh kerajaan bisnisnya keluar Hong Kong, termasuk mengungsikan dua bendera usahanya ke luar negeri. Berbagai media pemerintah Tiongkok pun mulai memicu perang kata-kata.
Hubungan Li dengan Tiongkok daratan memang terkadang pasang-surut dalam beberapa tahun belakangan ini, terutama sejak dia menjual aset-aset propertinya yang ada di dua kota besar, Beijing dan Shanghai.
Beberapa media di Tiongkok, bahkan menyebut dia tidak lebih dari seorang spekulan. Dia pun diminta untuk bersikap seimbang antara misi bisnisnya  dengan kecintaan terhadap negeri leluhurnya.
“Global Times”, media berpengaruh di negeri tirai bambu itu dalam tajuknya minggu lalu memperlihatkan sikap yang tegas terhadap Li Ka-shing.
Media itu menyebut Li sebagai orang yang tidak patut lagi dijadikan contoh bagi orang-orang Tiongkok.
Orang Tiongkok sekarang harus banyak belajar dan memuji pengusaha yang lebih muda seperti Jack Ma Yu -pemilik Alibaba, dan  Lei Jun dari Xiaomi.
Bahkan seorang kolumnis dalam tulisannya yang dimuat “Sino.com” menggambarkan Li sebagai  “a big tiger in property market”. Bagi Anda yang mengikuti perkembangan politik Tiongkok, istilah “big tiger” populer sejak Xi Jinping berkuasa di negeri itu dan menjadi sasaran  kampanye anti korupsi yaitu termasuk pejabat tinggi pemerintah dan partai, serta pengusaha.
Belakangan ini mereka yang termasuk dalam istilah “big tiger” adalah mantan petinggi bidang keamanan  Zhou Yongkang dan Ling Jihua, orang dekat mantan Presiden Hu Jintao.
Tampaknya kampanye anti Li ini begitu tertata dan masih ada beberapa artikel dari media lain yang memperlihatkan suara berakhirnya era Li. Bahkan tersirat bahwa jika Li tidak membutuhkan Beijing lagi, maka Beijing juga tidak akan bergantung pada Li seorang dalam mengatasi urusan Hong Kong. Satu era sudah dianggap cukup.
Dalam kasus Li ini, sungguh terlihat strategi jangka panjang Beijing yang disebut dengan hubungan  “win-win” .
Jika tidak tercipta “win-win”, maka kita bukan lagi “kamerat”. Jadi dari kasus ini banyak yang bisa dipelajari oleh para pengusaha di luar negeri. [JX/E4]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here