Lian Gouw, Novelis Kelahiran Indonesia

Lian Gouw (Foto: JX/VOA)

SAN MATEO, JIA XIANG – Lian Gouw, penulis novel kelahiran Indonesia, baru belajar bahasa tanah kelahirannya enam tahun lalu. Tetapi dia mampu menuturkan kisah hidupnya dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. 

“Waktu saya pulang tahun 2010, satu kata (Bahasa Indonesia) pun saya tidak mampu. Saya baru belajar mulai awal 2011,” kata Lian yang sudah lebih dari 35 tahun menetap di San Mateo, San Fransisco, California, Amerika Serikat. Lian baru menginjakkan kakinya kembali di Indonesia pada tahun 2010,  saat peluncuran novelnya yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berjudul Menantang Phoenix.

Awalnya novel ini ditulis dalam Bahasa Inggris dengan judul Only a Girl sebelum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. “(Novel ini) melukiskan kedudukan perempuan, meskipun dimana juga, bangsa apa juga, dalam lingkungan keluarga,” ujar Lian.

Only a Girl  mengisahkan perjuangan tiga generasi perempuan Tionghoa-Indonesia dalam mencari jati dirinya. Novel ini berlatar belakang sejarah Indonesia dari tahun 1930 hingga 1952 di era depresi, Perang Dunia II, hingga pemberontakan kemerdekaan terhadap penjajahan Belanda berbaur dengan konflik budaya.

Lian memang sudah senang membaca dan menulis sejak kecil, sewaktu tinggal di Bandung dan pernah mendapatkan penghargaan menulis dari sekolah dan surat kabar setempat.

Selama tinggal di Indonesia dan hidup di bawah penjajahan Belanda, dia menyesal tidak pernah belajar kebudayaan dan sejarah Indonesia, tanah airnya dengan benar.

“Waktu Presiden Soekarno mengumumkan bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa kita, dan itu bahasa yang akan dan hanya itu bahasa yang diperbolehkan untuk dibicarakan dan digunakan. Buku-buku Belanda semua dibakar, disita dan dibakar, di situlah saya merasa, saya dibungkam, tetapi sekarang saya mengerti dan saya tahun yang lalu, saya pergi ke makam Bung Karno dan saya minta maaf,” ujar Lian.

Sebagai bukti kecintaannya pada dunia menulis dan Indonesia, kini Lian mendirikan penerbitan Dalang Publishing yang telah menerjemahkan 8 novel Indonesia ke dalam Bahasa Inggris.

“Saya hanya menerbitkan tulisan sejarah dan kebudayaan. Kalau tidak ada kekaitan dengan sejarah dan kebudayaan, saya tidak akan menerbitkannya karena kerjaannya banyak, dan uangnya banyak, dan itu saya, saya, saya,” kata Lian.

Buku terbaru yang kini tengah digarap oleh Dalang Publishing adalah buku  Dasamuka  karya seorang penulis dari Purworejo. [JX/VOA/Eka]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here