Lima Hasil Penelitian Ditarget Masuk Springer

Prof Shun Hsyung Chang dari Taiwan (kiri) menunjukkan buku Springer didampingi Muaffaq Achmad Jani. (Foto: JX/Budi Arie Satriyo)

SURABAYA, JIA XIANG – Sekitar 35 abstrak penelitian dari Indonesia disertakan dalam Physics and Mechanics of New Materials and Their Applications (Phenma) 2016. Dari jumlah itu, sebanyak lima penelitian ditarget masuk jurnal ilmiah internasional Springer tahun ini.

Total penelitian yang masuk di Phenma 2016 sebanyak 308 penelitian. Penelitian tersebut berasal dari 18 negara. “Phenma tahun lalu di Rusia, Indonesia meloloskan tiga penelitian di Springer. Tahun 2014 di Thailand meloloskan tujuh jurnal, ” kata Conference Chairs Phenma 2016 Muaffaq Achmad Jani, Rabu (20/7/16).

Muaffaq mengatakan, jumlah penelitian yang bisa masuk springer hanya 50. Dengan begitu, seleksi dari para reviewer bakal ketat. Reviewer dari beberapa negara ini akan melihat topik penelitian.  Selanjutnya, kemanfaatan topik dan penggunaan metodologi. “Semua tentu berdasar kajian ilmiah,” jelasnya.

Karya ilmiah yang masuk Springer dipercaya mempunyai dampak besar di kalangan industri dan akademisi. Sebab, penggunanya banyak. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya yang dikutip hingga pengunduh makalah dari seluruh dunia.

Muaffaq yang juga Dekan Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya ini melanjutkan, karya ilmiah yang masuk Springer dinilai cukup prestise. Apalagi, makalah tahun lalu telah mendapat indeks scopus empat. “Untuk dapat nilai satu di Scopus cukup sulit, tapi tahun kemarin mendapat indeks empat. Belum lagi kalau penelitian itu sudah dipatenkan, tentu peneliti bakal mendapat royalti,” terangnya.

Ketua Pelaksana Phenma 2016, Muslimin Abdulrahim menambahkan, selama beberapa tahun belakangan peneliti Indonesia hanya mengikuti perkembangan penelitian luar negeri. Namun, saat ini kita bisa sejajar dalam hal penelitian. “Ke depannya kita ingin unggul,” tuturnya.

Salah satu penelitian unggulan, lanjut Muslimin, adalah pemanfaatan abu batubara untuk spare part mesin alat ringan. Menurut dia, abu batubara selama ini hanya menjadi debu polusi. Namun, dengan hasil penelitian Untag tersebut, diharapkan mengurangi polusi abu batubara.

“Abu batubara selama ini mengganggu. Dengan penelitian ini bisa dimanfaatkan untuk spare part segala macam mesin alat ringan. Seperti roda gigi untuk mesin sampan di laut. Ke depannya dapat dikembangkan ke pembuatan spare part alat berat,” pungkasnya. [JX/Bas/W5]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here