Lindungi Anak-Anak Kita

Oleh: Iman Sjahputra

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada Mei 2016 lalu pernah mengeluarkan data tentang jumlah anak berhadapan dengan hukum, periode Januari 2016 hingga 25 April 2016. Menurut mereka ada 298 kasus. Ini adalah peningkatan 15 persen dibanding tahun sebelumnya.
Dari jumlah itu, ada 24 kasus anak sebagai pelaku tindak kekerasan fisik. Di bagian lain ada 36 kasus anak sebagai pelaku dan korban kekerasan serta pemerkosaan, pencabulan, dan sodomi. Di wilayah dari wilayah, maka anak berhadapan dengan hukum ada di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.Tingginya angka tingkat kejahatan anak, dengan konsekuensi berhadapan dengan hukum, dibutuhkan langkah extra ordinary atau luar biasa dalam mencegah dan menanggulangi kekerasan baik secara fisik maupun seksual terhadap anak.
Penyebab munculnya kekerasan terhadap anak, baik sebagai pelaku maupun korban, banyak faktor. Bukan hanya dari sisi pribadi anak itu, tetapi juga dari faktor lingkungan yang memang benar-benar berpotensi menciptakan suasana mendukung terjadinya aksi kekerasan.
Faktor-faktor penyebab ini ada yang bias diantisipasi, namun ada juga yang tidak. Semua itu sebenarnya bergantung pada kehidupan di lingkungan keluarga anak itu sendiri. Artinya sekarang kembali kepada orang tua yang diharapkan mampu menjalankan fungsinya dengan baik dan benar.
Tidak heran bila Presiden Joko Widodo pada Peringatan Hari Keluarga Nasional di Kupang, NTT, Sabtu ini meminta kepada masyarakat agar tindak kekerasan terhadap anak ini dihentikan. Presiden pun berharap agar keluarga bisa menjamin anak-anak mereka terlindungi dari perilaku kekerasan. Keluarga adalah yang pertama dan utama dalam memberikan rasa nyaman dan aman bagi anak-anak mereka.
Artinya, fungsi perlindungan harus terwujud, dengan demikian kekerasan terhadap anak pun mampu dicegah. Perlindungan ini bukan semata pada aksi-aksi secara fisik, tetapi juga berbagai faktor pendorong yang mampu mengubah pola pikir anak untuk melakukan tindakan menyimpang, termasuk penggunaan teknologi informasi.
Orang tua atau keluarga harus mampu mengarahkan anak untuk menggunakan teknologi informasi untuk hal-hal yang positif, sehingga keluarga, menurut istilah Presiden Joko Widodo berperan aktif melakukan revolusi mental.
Dengan kata lain fungsi dan tugas pembinaan anak ini, pun harus terpadu, antara rumah, sekolah dan masyarakat. Tiga pilar ini adalah tonggak utama untuk menjadikan anak tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang baik. Tanpa ada kerjasama yang baik, tiga pilar ini akan berjalan sendiri-sendiri sambil menentukan arah yang mereka kehendaki. Dalam kondisi seperti ini, anak pun akan menjadi korban.
Padahal anak harus dilindungi. Maka, tiga pilar ini harus menjalankan fungsi masing-masing dengan baik. Fungsi-fungsi itu, menurut Presiden Joko Widodo adalah keagamaan, sosial, dan pendidikan, reproduksi, pembinaan lingkungan, dan perlindungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here