Mahasiswa Universitas Pattimura Raih “Global Emerging Youth Leaders”

Zulfirman Rahyantel (ketiga dari kanan). (Foto; JX/VOA)

WASHINGTON DC, JIA XIANG – Zulfirman Rahyantel, mahasiswa Universitas Pattimura – Ambon, Maluku, menjadi salah seorang dari sepuluh pemuda berbagai penjuru dunia yang dianugerahi penghargaan, Global Emerging Youth Leaders, oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Rabu (20/4/16) pagi waktu setempat, karena dinilai telah melakukan perubahan sosial yang konstruktif.Zulfirman terpilih karena dinilai berhasil memfasilitasi dialog antarkeyakinan di antara sesama anak muda di Ambon dan daerah-daerah rawan konflik lain di Indonesia. Dia bahkan mengajak mereka mengunjungi daerah-daerah itu secara langsung untuk berbagi pengalaman, termasuk suka duka menjadi warga kota Ambon yang pernah dikoyak konflik bernuansa agama.
Anak-anak muda lain yang mendapat anugerah ini antara lain Ahlem Nasraoui (Tunisia) yang menggagas upaya pemberdayaan perempuan dan remaja lewat program Peace Mediators, yang dengan berani menjadikan upaya melawan terorisme dan ekstremisme sebagai platform utama.
Dalam pidato di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Rabu, Ahlem – yang telah melangsungkan puluhan latihan bagi perempuan di Tunisia – mengatakan betapa anak muda, khususnya perempuan, harus berdiri paling depan untuk menjawab isu-isu strategis dunia, termasuk menjernihkan kesalahpahaman tentang Islam yang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok radikal dan intoleran.
Anak muda lain yang menerima anugerah ini, Ahmad Shakib Mohsanyar (Afghanistan), yang selama setahun terakhir menggalakkan kampanye “Afghanistan Needs You”. Dia mengajak anak-anak muda di negara itu menciptakan kondisi kehidupan yang lebih baik. Ahmad juga mempromosikan pendidikan, kewirausahaan dan keterlibatan antarmasyarakat madani di Afghanistan.
Ada pula Thinzar Shunlei Yi dari Myanmar yang memimpin “Burma’s National Youth Congress” dan sekaligus “The National Youth Network”, Nino Nanitashvili (Georgia) yang mendorong upaya menciptakan perdamaian lewat teknologi, Asha Hassan (Kenya) mengembangkan kelompok-kelompok anak muda yang memusatkan perhatian pada pentingnya rekonsiliasi antaretnis dan kelompok.
Sementara Samuel Grzybowski (Perancis) mendirikan organisasi antarkeyakinan Coexister sejak dia masih SMA dan kini memiliki cabang di Belgia dan Swiss, Basel Almadhoun – mahasiswa Universitas Al Azhar di Gaza yang memulai klub debat untuk mengajak anak-anak muda menyampaikan opini tentang konflik dan perdamaian. Ada juga Hillary Briffa (Malta), mahasiswa calon doktor di London, sekaligus duta muda Malta di Organisasi Kerjasama dan Keamanan Eropa OSCE.
Anak muda terakhir yang juga meraih Global Emerging Youth Leaders adalah Jessel Recinos Fernandez dari Honduras. Berbeda dengan rekan-rekannya yang banyak menggagas dialog atau komunitas antar keyakinan, Fernandez yang dibesarkan di pinggiran kota San Pedro Sula – suatu kota di Honduras yang dijuluki sebagai “ibukota pembunuhan di dunia”, mendirikan “Skate Brothers” yang menawarkan beragam aktivitas kepada anak muda supaya mereka tidak terlibat kegiatan premanisme. Fernandez sendiri mengatakan kepada VOA, dia tertantang membangun kelompok ini setelah nyaris meninggal dalam baku tembak antarkelompok preman. “Saya pikir saya sudah mati. Karena peluru yang menembus dada saya hanya tinggal beberapa sentimeter dari jantung. Semua pikir saya akan mati. Tapi saya hidup”. Fernandez mengatakan momentum itu membuatnya menyadari bahwa dia diberi kesempatan hidup kedua oleh Tuhan untuk membantu sesama anak muda yang terlibat premanisme.
Kesepuluh penerima penghargaan ini akan berada di Amerika selama beberapa minggu untuk mengikuti berbagai kegiatan, sebelum kembali ke tanah air masing-masing. [JX/Eka]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here