Mana Jalur Sepeda?

Jalur sepeda kembali mencuat di kalangan para penggemar sepeda di Jakarta.  Bagi komunitas sepeda atau Bike to Work adanya jalur sepeda, artinya mengajak orang untuk bersepeda, hidup sehat, dan mengurangi kemacetan lalu lintas.

Sepeda menjadi pilihan tepat untuk mengkampanyekan hidup sehat, dan alat transportasi murah serta ramah lingkungan.  Karena itu, pemerintah Jakarta diharapkan memprogramkan kembali jalur sepeda, sebagai salah satu solusi yang juga “murah – meriah”.

Akhir-akhir ini kemacetan di Jakarta kian membuat  orang semakin “emosi”.  Namun revitalisasi lagi jalur sepeda merupakan kebutuhan yang mendesak.   Jalur sepeda di Jakarta ini baru ada dua yaitu sepanjang 1,5 km di wilayah Melawai, Jakarta Selatan, dan Kanal Banjir Timur  sepanjang 6,7 km.

Namun mau di kata apa, ribuan pengendara sepeda ini harus berlomba dan berebut dengan pengguna sepeda motor. Para pengendara sepeda motor ini  dengan leluasa  keluar masuk alias hilir mudik  di jalur sepeda, akibatnya para pesepeda ini menyingkir.

Menurut komunitas Baik to Work, kini ada sedikitnya 7.000 orang yang aktif menggunakan sepeda ke kantor.  Kian lama orang bersepeda ke kantor semakin besar jumlahnya. Bahkan bila memang jalur sepeda dibuat steril jumlahnya diperkirakan makin besar pula.

Karena itu, pemerintah DKI sebaiknya mengkapmanyekan lagi untuk menggunakan sepeda. Sambil menyiapkan jalur khusus sepeda.  Artinya semua cara untuk mengurangi  kemacetan lalu lintas dari yang paling mahal, membangun monorel, dan TransJakarta misalnya, sampai pada membuat jalur sepeda, serta fasilitas nyaman bagi para pejalan kaki, bisa dilakukan.

Yang penting ada keinginan untuk menjadikan kota ini bersih, bebas polusi, aman dan nyaman bagi warganya yang menggunakan kendaraan apa pun. Kalau perlu gubernur Jakarta beserta aparatnya , di semua jajaran, perlu turun ke jalan memberi  contoh dengan bersepeda ke kantor.

Hal inilah yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, yang akan memperkuat fasilitas buat para pesepeda. Dengan kata lain, jalur sepeda yang sudah ada sekarang akan diperbaiki.  Bahkan dia  berangan-angan menjadikan Bandung kota sepeda. Salah satu langkah mewujudkan angan-angannya itu, dia bersepeda ke mana pun menggunakan sepeda.

Tampaknya DKI bukan hanya perlu belajar dari Bandung,  tetapi juga dari Amsterdam, Belanda  dan Tokyo, Jepang.  Amsterdam   disebut sebagai salah satu kota yang nyaman bagi pesepeda. Tidak Heran bila kota itu dijuluki sebagai cycle-friendly city. Bahkan tahun 2011,  40 persen pergerakan lalu lintasnya diciptakan oleh sepeda, ditunjang 90 persen jalur jalan yang aman bagi pengendara sepeda. Langkah yang dilakukan pemerintah kota itu antara lain, membatasi penggunaan kendaraan bermotor, pengintegrasian parkir (sepeda dan kendaraan lain), dan meningkatkan penggunaan sepeda.

Sementara Kota Metropolitan Tokyo tahun 2007 mencanangkan Safe Bicycle Riding Promotion Plan. Kini 8,4 juta dari 12,8 juta penduduk kota itu, adalah pemilik sepeda.

Strategi yang ditempuh Tokyo terfokus pada para pengendara sepeda yaitu mengurangi parkir sepeda ilegal, menambahk jumlah jalur sepda, meningkatkan etika dan disiplin bersepeda, dan meningkatkan fasilitas bersepeda dan keamanannya.

Banyak pilihan dan contoh yang bisa jadi pertimbangan bagi Pemda Jakarta untuk merevitalisasi lagi jalur sepeda. Namun kembali lagi ke manusianya.  Mau atau tidak, bisa atau tidak untuk hidup disiplin dan tertib termasuk berlalulintas. Apabila disiplin ini hanya di atas kertas, tanpa penegakkan hukum, maka semua program yang direncakan akan sia-sia.

SHARE
Previous articleHukum dan Rasa Keadilan
Next articleWibawa Hakim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here