Mandulnya Fungsi Parlemen

Jia Xiang – Satu hari penting di bulan Oktober adalah tanggal enam belas. Pada tanggal ini diperingati sebagai Hari Parlemen Indonesia. Masyarakat mungkin sangat sedikit yang peduli akan tanggal ini. Jika ada peringatan itu pun, paling hanya    disekat-sekat ruang terbatas dan peringatannya pasti tidak gegap gempita.

Kita tidak mempersoalkan ada tidaknya perayaan bagi Hari Parlemen Indonesia ini. Tetapi yang kita persoalkan adalah, bagaimana wajah parlemen di negeri ini yang usianya hampir sama dengan usia kemerdekaan negeri tercinta. Sebab, di alam kemerdekaan dan di zaman modern seperti saat ini, posisi parlemen punya peran strategis. Kualitas parlemen sangat berpengaruh kepada kehidupan bangsa dan negara.

Lantas bagaimana wajah parlemen negeri ini semenjak lahirnya Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang dibentuk sesuai Pasal 4 Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945, dan sekaligus sebagai cikal bakal parlemen di negeri ini?

Dalam konsep ketatanegaraan modern, keberadaan parlemen tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Sebagai salah satu pemegang mandat rakyat sesuai konstitusi, maka parlemen yang memiliki kewenangan di bidang legislatif, anggaran dan pengawasan terhadap jalannya roda pemerintahan harus betul-betul menjadi saluran aspirasi masyarakat.

Namun, sudahkah harapan masyarakat itu digapai? Rasa-rasanya harapan itu belum dinikmati masyarakat. Itu terlihat dari keseharian tatkala lembaga parlemen yang seharusnya membela rakyat justru sebaliknya seakan tidak ada henti-hentinya dihujat.

Kritik pedas sering terlontar kepada para anggota parlemen kita. Pengawasan yang tidak optimal, legislasi yang jauh dari target, kewenangan penganggaran yang justru sarat penyelewengan semuanya menjadi faktor-faktor pemicu kekecewaan rakyat.

Lihat saja data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).  Jika dirunut dari tahun 2004 hingga Juli 2013, sedikitnya ada 72 anggota dewan ditangkap KPK sebagai tersangka. Sepanjang tahun ini anggota dewan menempati urutan kedua terbesar yang ditangkap KPK.  Kasus paling anyar adalah dugaan korupsi proyek pembangunan Pusat Olahraga Hambalang, dan kasus impor daging sapi.

Menjadi pertanyaan akankah wajah dan kinerja parlemen kita berubah di tahun pergantian anggota parlemen pada tahun 2014 mendatang? Banyak pihak yang skeptis.

Kita amini bahwa pemilihan umum (pemilu) di tahun 2014 merupakan ajang suksesi keanggotaan parlemen di negeri ini. Tetapi meski pemilu belum terlaksana banyak yang sudah meragukan perbaikan kenerja parlemen. Masyarakat jangan terlalu berharap kepada parlemen. Mengapa bisa begitu? Itu karena mekanisme perekrutan calon anggota legislatif tidak dibenahi.

Partai politik sebagai wadah para calon anggota parlemen masih senang dengan kosmetik politik dan bukan substansi. Realitasnya kasat mata, partai belum serius menjaring kader yang memiliki integritas. Partai masih saja terjebak kepada faktor popularitas dan modal sosial dalam proses seleksi.

Akankah bangsa ini terus berkutat dengan angka kemiskinan akibat maraknya korupsi dan penyelewengan yang disebabkan mandulnya fungsi parlemen Indonesia?

SHARE
Previous articleIkon Kota Jakarta
Next articleCespleng-kah Perppu MK?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here